PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI PADA KEASLIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI BANDUNG STUDI KASUS : GEDUNG TIGAWARNA

  • B. Harahap Y
  • Saryono A
  • Saliya Y
N/ACitations
Citations of this article
22Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Abstract - The development of the city of Bandung is very rapid with the emergence of modern buildings coloring the face of Bandung in almost all cities, this situation is caused by the increasingly diverse needs of the city, cultural heritage buildings are also affected, because their functions are changed according to the needs of their owners. There are many cultural heritage buildings whose functions have changed but do not pay attention to the authenticity of the buildings so that their condition becomes alarming, of the many cultural heritage buildings in Bandung, only a few of which are still visible in their authenticity even though their functions have changed. This study will raise the issue of the effect of changing functions on the authenticity of cultural heritage buildings with a focus on function and form, with the case study of Gedung Tiga Warna. This qualitative research puts forward a new way of reading that combines the Function-Form-Construction theory and the Preservation theory. The Tiga Warna Building, from the outside, still looks authentic, but many of the interior processing has changed from the original, due to the change in function from residential and office buildings to BTPN bank buildings. However, the original form is sought to be maintained, among others by using the same or similar materials as the original, both exterior and interior. The benefits of this research are expected to contribute to architectural knowledge for the community, input for academics and students of Architecture, as well as input for policy makers in formulating strategies for preserving cultural heritage buildings.  Key words : Changes in function, authenticity, heritage building, Gedung Tigawarna.Abstrak - Perkembangan kota Bandung sangat pesat dengan munculnya bangunan-bangunan modern di hampir diseluruh kota Bandung, keadaan ini disebabkan oleh kebutuhan kota yang semakin beragam dan bangunan cagar budaya ikut terkena dampak, karena diubah fungsinya sesuai dengan kebutuhan. Banyak bangunan cagar budaya yang fungsinya berubah namun tidak memperhatikan keaslian bangunannya sehingga kondisinya jadi memprihatinkan.  Dari sekian banyak bangunan cagar budaya di Bandung hanya sedikit yang  masih terlihat keasliannya walaupun sudah berubah fungsinya. Studi ini akan mengangkat isu pengaruh perubahan fungsi pada keaslian bangunan cagar budaya dengan fokus pada fungsi dan bentuk, dengan kasus studi Gedung Tigawarna. Penelitian ini mengedepankan cara baca baru yang menggabungkan teori Fungsi-Bentuk-Konstruksi dan teori Pelestarian. Gedung Tigawarna, tampak dari luar masih terlihat keasliannya, namun pada pengolahan interior banyak yang sudah berbeda dari aslinya, karena perubahan fungsi dari bangunan rumah tinggal dan kantor menjadi bangunan bank BTPN. Namun bentuk diupayakan dipertahankan keasliannya, antara lain dengan menggunakan material yang sama atau mirip dengan aslinya, baik eksterior maupun interiornya. Manfaat dari penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi pengetahuan arsitektur bagi masyarakat, masukan bagi para akademisi dan mahasiswa Arsitektur, juga dapat menjadi masukan bagi pemegang kebijakan dalam menyusun strategi  pelestarian bangunan cagar budaya.   Kata-kata kunci : Perubahan fungsi, keaslian, bangunan cagar budaya, Gedung Tigawarna.

Cite

CITATION STYLE

APA

B. Harahap, Y., Saryono, A., & Saliya, Y. (2022). PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI PADA KEASLIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI BANDUNG STUDI KASUS : GEDUNG TIGAWARNA. Riset Arsitektur (RISA), 6(02), 223–239. https://doi.org/10.26593/risa.v6i02.5732.223-239

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free