The problems of translation in turjumdn al-mustafld/ a study of theological and eschatological aspects

7Citations
Citations of this article
48Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Artikel ini mengkaji dua aspek periling ycing dieksplorasi dalam Quran, yaitu teologi dan eskatologi. Untuk tujuan penulisan, artikel ini menggunakan beberapa salinan Manu-skrip [MSS dalam bentuk jamak dan MS untuk tunggalj dan edisi cetak Dari l'urjuman al-Mustalld. Manuskrip-manuskrip tersebut adalah ML 290 dan ML 116 untuk MSS dan terbitan Dari Mustafa al-Bdbi al-Halabi pada tahun 1951 dan Ddr al-Fikr pada tahun 1.9.90/baca: I M90j untuk edisi cetaknya. I'erkait pembabasan teologi dan eskatologi, artikel ini akan merujuk karya Fazlur Rahman, 1 he Major Ihcmcs of the Quraiiv karena pikiran-pikirannya mencerminkan arus utama keyakinan umat Muslim mengenai ked.ua aspek tersebut. Dalam biidaya Melayu, baik teologi maupun eskatologi terbentuk sebagai basil Dari "Indianisasi-kedatangan Hindu dan Budha ke Nusantara-sekitar seribu tahun sebelum kelahiran Abd al-Raujpada abad ke-17. Jttdi, artikel ini juga akan mendiskusikan seberapa jauh Hindu mengembangkan kedua aspek tersebut dan bagairnana pernahaman rnasyarakat-masyarakat Asia lenggara mengenai kedua aspek tersebut. Untuk orang-orang yang bukan berbahasa Arab, pernahaman makna literal Dari Quran dimungkinkan melalui aktivitas penerjemahan. Sernentara makna Quran bisa disajikan dalam bahasa-bahasa non-Arab, teks aslinya tidak dap at diterjemahkan. Aspek ideologis Quran berbahasa Arab tidak mungkin bisa ditransmisikan ke dalam bahasa lain secara sempurna. Sepanjang sty a rah, Quran berkomunikasi dengan berbagai aspek buddy a dim. ideologis masyara kat tertentu. Oleh karena itu, ketika datang ke Nusantara, Quran pun bersentuhan dengan berbagai budaya dan bahasa di Nusantara, terutarna dengan budaya Melayu. Ketika lAbd al-Ra'uf memperkenalkan pemahaman Quran terjemahan kt'pada orang-orang Melayu, dia sadar- A tau tidak sadar-mernprakarsai vernakularisasi Quran ke dalam Bahasa Melayu. Hasil Dariproses terse but add lab bahwa ketika salah satu kata Quran tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal, Melayu, pemindahan kata-kata using tidak dapat dihinDari. Untuk yang per tarn a, yang terjadi adalah tindakan terjemahan. Sementara untuk yang kedua, disebut tindakan mentransfer kata-kata asing ke dalam bahasa lokal, dan karena itu transfer tidak sarna dengan tindakan terjemahan. Mengacu pada konsep hermeneutika Gadarner, kasus yang pertama rnengungkapkan bahwa proses kompromi Ibaca: Vernakularisasij antara kata-kata asli dan yang diterjemahkan terbukti tidak mungkin her hasil. Untuk kasus kedua, seperti ditegaskan Gadamer, aktivitas penerjernahan tampaknya mustahil dan oleh karena itu pembaca perlu memahami teks asli atau menjadikannya sebagai kosakata mereka sendiri. Jika tidak, mereka tidak akan pernah mendapatkan arti teks yang sebenarnya. Artikel ini memperlihatkan bahwa bukanlah tugas yang mudah untuk memperkenalkan istilah-istilah dan ajaran-ajaran agama kepada masyarakat lokal yang sebelumnya telah mengadopsi sis tem agama lain yang herbeda. Nabi Muhammad mengajarkan sosok Tuhan yang transenden. Namun demikian, masyarakaMvasyarakat di Asia lenggara memilih untuk melihat-Nya secara lebih imanen. Sebagai contoh, penggunaan kata gustiyang dilekatkan dalam kata Allah dan dalam kata Tuhan [bukan kata dewa/a da la h bukti betapa kuatnya budaya Asia lenggara dalam berhadapan dengan Islam, Karena tidak mungkin menggunakan terjemahan istilah lokal, hampir semua misionaris Islam tidakpunya pilihan lain selain mentransfer kata Allah ke d-alam bahasa lokal Konsep surga yang dipahami dalam Quran jelas tidak berpengaruh besar bagi eskatologi lokal. Dengan hutan tropis dan berlimpahnya air\ Asia lenggara dianggap sebagai surga seperti yang dieeritakan Quran. Jadi, berlawanan dengan kata Arab jannah dan naryang tidak bisa dibayangkan, swarga dan narake dekat dengan, atau bahkan bagian Dari, kehidupan duniawi Oleh karena itu, ketimbang memindahkan kata jannah dan nar ke dalam bahasa lokal, penerjemahan kedua kata tersebut tampaknya diyakini menjadi alternatif terbaik meskipun keduanya tidak akan pernah mencerminkan makna aslinya.

Cite

CITATION STYLE

APA

Nurlawab, E. (2011). The problems of translation in turjumdn al-mustafld/ a study of theological and eschatological aspects. Studia Islamika, 18(1), 35–65. https://doi.org/10.15408/sdi.v18i1.440

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free