Tataurutan Pernikahan Adat dan Mitos pada Tradisi Upacara Perkawinan Masyarakat Banjar

  • Efendy N
N/ACitations
Citations of this article
7Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

The discussion of myths about traditional marriages circulating in the community is always associated with folklore or living legends that occur in the community, often originating from rituals in the human life cycle such as birth, marriage and death. There are many myths in Banjar traditional marriage that should be adhered to in order to avoid negativity or gain good things from the ceremony. For example, serving kokoleh as a welcome meal when a group of male relatives proposes to the female party is intended to achieve a good outcome (bapakoleh). The traditions carried out by the community against the myths that surround them, if associated with the logic of rationality in general, are certainly irrational. However, it is different when viewed with an anthropological approach that assumes that no social reality is without meaning. They understand the reality behind the various symbols found in traditional Banjar weddings such as basasuluh, badatang, bapayuan, maatar patalian atau matar jujuran, gotong royong, bapingit, akad nikah, duduk aruh atau baapi-api, badudus, mahias pengantin, maarak pengantin, batatai, bajagaan pengantin, dan parawaan which are surrounded by various myths.Pembahasan mitos tetang perkawinan adat yang beredar di masyarakat selalu dikaitkan dengan cerita rakyat atau legenda hidup yang terjadi di masyarakat, seringkali bersumber dari ritual dalam siklus hidup manusia seperti kelahiran, perkawinan dan kematian. Banyak mitos dalam pernikahan adat Banjar yang sebaiknya dipatuhi agar terhindar dari hal-hal negatif atau mendapatkan hal-hal baik dari upacara tersebut. Misalnya, menyajikan kokoleh sebagai santapan selamat datang ketika sekelompok kerabat laki-laki melamar pihak perempuan, dimaksudkan untuk mencapai hasil yang baik (bapakoleh). Tradisi yang dilakukan masyarakat terhadap mitos-mitos yang melingkupinya, jika dikaitkan dengan logika rasionalitas secara umum, tentu masuk irasional. Namun lain halnya jika dilihat dengan pendekatan antropologis yang beranggapan bahwa tidak ada realitas sosial yang tanpa makna. Mereka memahami realitas di balik berbagai symbol yang terdapat pada pernikahan adat Banjar seperti basasuluh, badatang, bapayuan, maatar patalian atau matar jujuran, gotong royong, bapingit, akad nikah, duduk aruh atau baapi-api, badudus, mahias pengantin, maarak pengantin, batatai, bajagaan pengantin, dan parawaan yang dikelilingi oleh berbagai mitos. Kata Kunci : Pernikahan Adat, Mitos, Tradisi Upacara Perkawinan

Cite

CITATION STYLE

APA

Efendy, N. (2025). Tataurutan Pernikahan Adat dan Mitos pada Tradisi Upacara Perkawinan Masyarakat Banjar. FIKRUNA: Jurnal Ilmiah Kependidikan Dan Kemasyarakatan, 7(4), 1175–1198. https://doi.org/10.56489/tbf45708

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free