ETIKA PERGAULAN DALAM ALQURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH

  • Pranoto A
  • Abdussalam A
  • Fahrudin F
N/ACitations
Citations of this article
296Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini tentang etika pergaulan dalam Alquran dan implikasinya terhadap pembelajaran PAI di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan etika pergaulan dalam Alquran kemudian dicari implikasinya terhadap pembelajaran PAI di sekolah. Pendekatan yang digunakan yakni pendekatan kualitatif metode tafsir muqaran dengan menelusuri ayat-ayat yang berhubungan dengan etika pergaulan kemudian menganalisa dengan studi pustaka dan analisis deskriptif. Sumber data primer berasal dari Alquran, sedangkan sumber data sekunder dari literatur tafsir, buku, jurnal dan literatur lain yang menunjang. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa; etika pergaulan sesama muslim dalam Alquran yaitu, 1) mengadakan perdamaian, 2) menciptakan persaudaraan, 3) tidak menghina sesama muslim, 4) menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing, 5) saling mengenal satu sama lain, dan terakhir 6) berkasih sayang terhadap sesama muslim. Adapun etika pergaulan muslim dengan non-muslim menurut Alquran yaitu; 1) saling bekerja sama, 2) bersikap tegas dalam hal prinsip terhadap non-muslim, 3) berdamai dengan non-muslim, 4) berbuat baik dan adil terhadap non-muslim, 5) tidak menjadikan teman orang yang memerangi karena agama, dan terakhir 6) tidak berbuat aniaya kepada non-muslim. Implikasi yang dapat diperoleh adalah hendaknya pembelajaran mengarahkan peserta didik untuk dapat hidup damai, rukun dan saling toleran terhadap perbedaan yang ada baik di internal maupun eksternal muslim. Kata Kunci: Alquran, Etika Pergaulan, Muslim, Non-Muslim, Pembelajaran Agus Pranoto, Etika Pergaulan dalam Alquran TARBAWY Vol. 3, Nomor 2, (2016) | 108 PENDAHULUAN Akhlak merupakan salah satu aspek penting dan memiliki peranan vital dalam kehidupan seorang muslim. Ya'qub (1985, hlm. 33) menjabarkan bahwa akhlak mulia yang sesuai dengan ajaran Allah merupakan tugas para Rasul diutus oleh Allah kepada umat Manusia. Meskipun para Rasul diutus pada zaman yang tidak sama dan kondisi umat yang berbeda-beda, namun tugas mereka sama yakni berusaha agar umat berada di jalan Allah, menyembah Allah, mengerjakan perbuatan baik, menjauhi perbuatan munkar, serta untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang merupakan prinsip akhlāk al karīmaħ. Akhlak individu dan masyarakat telah diatur dalam Islam. Dalam lingkungan masyarakat, terdapat berbagai macam golongan, suku, ras dan agama. Hubungan yang tidak baik, seringkali menimbulkan konflik yang berakhir pada perpecahan individu ataupun kelompok. Dalam kehidupan sosial, muslim tidak terlepas dari muslim yang lain. Dikatakan pada suatu hadis bahwa muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Muslim memiliki hak dan kewajiban atas muslim yang lain. Islam telah mengatur sedemikian rupa bagaimana muslim yang satu dengan muslim yang lain bertindak dan beretika. Etika ini harus dijaga agar dapat tercipta hubungan yang harmonis, aman, tentram dan damai. Jika tidak perselisihan dan perpecahan akan terjadi. Ini terjadi karena perbedaan yang ada di kalangan umat muslim itu sendiri. Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam telah menjadi kenyataan sejarah yang tak terelakkan ungkap Syamsuddin (2002, hlm. 201). Sejarah Islam menyaksikan munculnya skisme yang beragam, sebagai hasil dari dialektika pemahaman tentang Islam itu sendiri lanjutnya. Hal ini menunjukan bahwa perbedaan di kalangan umat muslim tidak dapat dihindari, dan ini telah terjadi pada masa awal Islam tumbuh. Namun, perbedaan ini kurang dapat disikapi oleh muslim sendiri sebagai hal yang wajar. Ironisnya, perbedaan ini seringkali menjadi faktor perpecahan dan konflik di kalangan umat muslim sendiri. Sebagai pembelajaran, sejarah pemikiran Islam pernah mencatat seperti yang dikemukakan Syamsuddin (2002, hlm. 202) bahwa cukup banyak perbedaan pendapat yang membawa terjadinya pembunuhan, kasus Al-Hallaj (wafat 922 M) atau Suhrawardi (wafat 1191 M) misalnya, dua tokoh sufi terkemuka, karena penguasa menganggap pikiran-pikiran mereka bertentangan dengan akidah agama. Haruskah perbedaan yang timbul di kalangan umat muslim disikapi dengan hal demikian? Tentunya muslim sama-sama mengetahui bagaimana seharusnya mereka saling menyikapi jika dihadapkan pada persoalan demikian. Alquran adalah pedoman dan petunjuk bersama umat muslim dimanapun berada. Alquran tentunya tidak menghendaki sampai adanya pembunuhan yang disebabkan karena perbedaan pendapat, perbedaan mazhab, perbedaan suku, ataupun perbedaan golongan. Demikian pula hubungan muslim dengan penganut agama lain, Islam adalah agama yang cinta akan perdamaian. Nabi sendiri banyak mencontohkan melalui kehidupan sehari-hari, bagaimana umat agama lain harus diayomi bukan ditanggapi dengan sikap kekerasan. Islam juga merupakan agama yang toleran. Ada anggapan bahwa apabila seseorang berada di lingkungan orang yang mayoritas muslim, maka dia akan aman. Hal ini nampaknya sulit dilakukan pada masa sekarang. Tentu bukan islam yang salah, namun penganut islamlah yang menganggap dirinya telah benar dalam memahami agama. Umat Islam dewasa ini – dalam hubungan dengan pemeluk agama lain – sering diidentikkan dengan aksi terorisme. Di negeri Barat khususnya kita sering mendengar istilah Islamophobia atau

Cite

CITATION STYLE

APA

Pranoto, A., Abdussalam, A., & Fahrudin, F. (2016). ETIKA PERGAULAN DALAM ALQURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH. TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education, 3(2), 107. https://doi.org/10.17509/t.v3i2.4514

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free