Abstract
Salah satu wujud etnoekologi yang dianut secara turun temurun oleh masyarakat Desa Triwidadi, Pajangan, DI Yogyakarta adalah pemanfaatan sumber daya hutan jenis tanaman obat “duwet” (Syzygium cumini Linn). Permasalahannya adalah bahwa nilai dan bentuk kearifan lokal tersebut kurang mendapat pengakuan dan penghargaan dari pemerintah, apalagi digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan hutan di Jawa. Sebagai penelitian awal, kajian ekologi-budaya ini bertujuan mengkonstruksikan kearifan lokal pemanfaatan duwet sebagai salah satu wujud kebudayaan fisik dari sistem pengetahuan yang bersifat melembaga. Penelitian kualitatif semi kuantitatif ini menggunakan metoda etnografi kognitif dalam mencari penjelasan sosiologis dari sistem pengetahuan budaya dan proses pemanfaatan duwet. Habitat tanaman duwet pada hutan alam, hutan sekunder, dan kebun-pekarangan menggambarkan bentuk perubahan adaptasi lingkungan dan proses sosial dari pemanfaatan sumber daya hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi simbolik dari pemanfaatan duwet antara lain berupa simbol konstitusi, simbol kognitif, simbol penilaian, dan simbol pengungkapan perasaan. Dalam konstruksi kearifan lokal proses pemanfaatan duwet ditemukan enam unsur penting etnoekologi yaitu sebagai sumber daya lokal, pengetahuan lokal, nilai lokal, keterampilan lokal, solidaritas kelompok lokal, serta mekanisme pengambilan keputusan lokal.
Cite
CITATION STYLE
Palmolina, M., & Fauziyah, E. (2018). KONSTRUKSI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PETANI HUTAN RAKYAT DALAM PEMANFAATAN DUWET (Syzygium cumini Linn). Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan, 15(1), 1–13. https://doi.org/10.20886/jpsek.2018.15.1.1-13
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.