Abstract
Pada penderita penyakit ginjal kronis (PGK), fungsi ginjal dalam mempertahankan homeostasis berbagai sistem metabolisme tubuh terganggu, salah satunya adalah memproduksi hormon eritropoietin. Anemia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada PGK dan turut berperan dalam meningkatkan morbiditas dan mortalitas penderita. Diagnosis maupun tatalaksana anemia pada PGK masih merupakan tantangan karena multifaktorial. Hepcidin, suatu peptida yang telah dikenal sebagai protein fase akut yang berperan pada regulasi metabolisme besi. Hepcidin diketahui memiliki korelasi dengan ferritin, suatu parameter pemeriksaan anemia yang lazim diperiksa selama ini. Selain berperan pada patofisiologi anemia pada PGK, hepcidin saat ini banyak diteliti karena diduga turut berperan pada patofisiologi gangguan mineral tulang pada PGK. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa konsentrasi vitamin D berbanding terbalik dengan konsentrasi hepcidin dan berhubungan positif dengan konsentrasi hemoglobin dan besi. Laporan terbaru secara invitro dan invivo mendukung adanya hubungan antara vitamin D dan anemia pada pasien dengan PGK melalui peran hepcidin.
Cite
CITATION STYLE
Lestari, H. I. (2020). PERAN HEPCIDIN DAN VITAMIN D DALAM PATOFISIOLOGI ANEMIA PADA ANAK DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIK. SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE, 3(2), 95–110. https://doi.org/10.32539/sjm.v3i2.109
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.