Abstract
Latar Belakang: Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Kota Banda Aceh, merupakan tempat penting bagi masyarakat, namun kehadiran lalat menimbulkan risiko kesehatan serius. Lalat dapat menyebarkan bakteri seperti diare, Pada tahun 2019, di Indonesia jumlah penderita diare pada semua kelompok umur adalah 61,7% dan sebesar 40% pada balita. Kelompok umur dengan prevelensi diare tertinggi yaitu 9% pada bayi dan 11,5% pada umur 1-4 tahun. Kelompok umur prevalensi tinggi (7,2%) juga termasuk kelompok umur 75 tahun keatas.Metode: Penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain observasi.Hasil: Hasil analisis Pasar Al-Mahirah di Kota Banda Aceh menggambarkan kondisi yang mengkhawatirkan dalam pengelolaan sampah, dengan 60% gedung tidak memenuhi syarat. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) tidak memenuhi syarat, dan 60% sampah adalah jenis organik. Hasil uji ANOVA pada kepadatan lalat menunjukkan perbedaan signifikan antar gedung-gedung, gedung 1 (16,36) dan Gedung 5 (4,32) dengan nilai (P-value = 0,0001).Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan dalam kepadatan lalat antara lima gedung di Pasar Al-Mahirah (P-value = 0,0001) Secara keseluruhan.Latar Belakang: Tingkat Angka Kematian Neonatal (AKN) pada tahun 2021 secara dominan pengaruhnya oleh Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mencapai persentase 34,5% berkontribusi pada peningkatan Angka Kematian Bayi (AKB) secara. Upaya pencegahan BBLR dapat dilakukannya perawatan prenatal guna memastikan persalinan yang berkualitas pada ibu hamil di Perkotaan dan Pedesaan. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017 yang fokus pada wilayah perkotaan dan pedesaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder pada SDKI 2017. Sampel berjumlah 16.344 dari 34 provinsi di Indonesia. Metode analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Kejadian BBLR lebih tinggi di kawasan perkotaan dibandingkan dengan pedesaan. Pendidikan ibu (P-Value=0,0003),pemeriksaan kehamilan (P-Value=0,0002), komplikasi kehamilan (P-Value=0,0003) dan kepatuhan konsumsi tablet Fe (P-Value= 0,001) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR di perkotaan sedangkan, pemeriksaan kehamilan (P-Value= 0,000), komplikasi kehamilan (P-Value= 0,0001), kepatuhan konsumsi tablet Fe (P-Value=0,0006),pekerjaan ibu (P-Value= 0,0308) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR di pedesaan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pemeriksaan kehamilan,komplikasi kehamilan, pemenuhan konsumsi tablet Fe dan pendidikan ibu dengan kejadian BBLR di perkotaan, sedangkan pemeriksaan kehamilan, komplikasi kehamilan, pemenuhan tabel konsumsi, dan pekerjaan ibu Saran: : diperlukan peningkatan pengetahuan ibu hamil melalui penyuluhan kesehatan guna mencegah terjadinya komplikasi kehamilan dan menjaga kesehatan bayi sejak dalam kandungan dengan meningkatkan kesadaran ibu hamil akan kesehatannya selama masa kehamilan. Kata Kunci : Kejadian BBLR, Komplikasi Kehamilan, Pemeriksaan Kehamilan, Perkotaan, Pedesaan
Cite
CITATION STYLE
Tapa, R. B. S., Aditama, W., & Fahdhienie, F. (2024). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah pada Perkotaan dan Pedesaan Di Indonesia: Analisis Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 15(01), 128–134. https://doi.org/10.34305/jikbh.v15i01.1041
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.