Abstract
Implementasi teknologi merupakan salah satu faktor utama yang diduga mempengaruhi fluktuasi produksi dan produktivitas. Pada sektor produktif teknologi sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan pembangunan berkelanjutan. Penerapan praktik teknologi yang dikombinasikan dengan keberlanjutan lingkungan selama tahap produksi dan pemrosesan pada tanaman kopi diduga dapat menghasilkan produksi pada capaian tingkatan yang maksimal. Tanaman kopi dapat diperbanyak dengan cara vegetatif yaitu menggunakan bagian dari tanaman itu sendiri, dan generatif yaitu menggunakan benih atau biji. Sambung pucuk (grafting) pada tanaman kopi merupakan perbanyakan secara vegetative. Beberapa kelebihan yang dimiliki perbanyakan cara vegetative antara lain; (1) mempunyai sifat yang sama dengan tanaman tetuanya (induk), (2) mutu hasil yang diperoleh lebih seragam, (3) memiliki dua sifat unggul sekaligus yaitu sifat unggul dari batang atas dan sifat unggul dari batang bawah, dan (4) memiliki umur mulai berbuah (prekositas) lebih awal. sampel frame sebanyak 326 yang terdiri dari 120 sampel frame sambung pucuk (grafting) dan 206 sampel frame kopi yang belum menerapkan sambung pucuk, Multi-stage sampling. Hasil menunjukan factor internal yang melekat pada petani kopi di Bengkulu menjadi pendorong dominan dalam mengadopsi teknologi sambung pucuk (grafting).
Cite
CITATION STYLE
Silamat, E., Siregar, H., Pambudy, R., & Harianto, H. (2023). Adopsi Teknologi Sambung Pucuk Pada Kopi Rakyat Berdasarkan Faktor Internal dan Ekternal Petani Lokal di Provinsi Bengkulu. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 9(11), 10203–10211. https://doi.org/10.29303/jppipa.v9i11.5677
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.