Preservation Communication Patterns Of The Akur Sunda Wiwitan Community's Art And Culture In Globalization Era

  • Fadilah W
  • Latifah H
  • Raturahmi L
N/ACitations
Citations of this article
38Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

As time goes by, even though there are positive impacts, we also have to be aware of the negative impacts that can threaten existing local culture. However, in the Akur Sunda Wiwitan community, they have a way to maintain their local beliefs, customs and culture amidst rapid technological advances. This research aims to reveal how the Akur Sunda Wiwitan people use communication patterns as a tool to maintain the arts and culture that have been passed down from one generation to the next. This research uses qualitative research methods with a constructivist approach, based on ethnographic communication theory. The data in this research was obtained through observation, in-depth interviews and documentation. The data analysis process follows the Miles and Huberman model, which includes the steps of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the research are presented in the form of a qualitative description, namely explaining the communication patterns used by the Akur Sunda Wiwitan  community in written form. This research focuses on two interesting activities studied, namely communication patterns that emerge in Nonoman routine collections and Taman Atikan activities. The communication carried out in these two activities are uses verbal and non-verbal communication. In the Nonoman group, there is a two-way communication pattern, while in Taman Atikan activities, there is a circular communication pattern. In these two communication patterns, the communicator and the communicant can directly interact with each other.Dengan perkembangan zaman, meskipun terdapat dampak positifnya, kita juga harus menyadari bahwa ada dampak negatif yang bisa mengancam budaya lokal yang ada. Akan tetapi, di masyarakat akur Sunda Wiwitan, mereka memiliki cara untuk tetap menjaga keyakinan, adat, dan budaya lokal mereka di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana masyarakat akur Sunda Wiwitan menggunakan pola komunikasi sebagai alat untuk merawat seni dan budaya yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan konstruktivis, yang berlandaskan pada teori etnografi komunikasi. Data yang dibutuhkan untuk penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Proses analisis data mengikuti model Miles dan Huberman, yang mencakup langkah-langkah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dipaparkan dalam bentuk deskripsi kualitatif, yaitu menjelaskan pola komunikasi yang digunakan oleh masyarakat akur Sunda Wiwitan dalam bentuk tertulis. Penelitian ini memusatkan perhatian pada dua kegiatan menarik yang diteliti yaitu pola komunikasi yang muncul dalam kumpulan rutin nonoman dan kegiatan Taman Atikan. Komunikasi yang dilakukan dalam kedua kegiatan tersebut memakai komunikasi verbal dan non-verbal .Dalam kumpulan nonoman, terdapat pola komunikasi dua arah, sementara dalam kegiatan Taman Atikan, terdapat pola komunikasi sirkular.  Kedua pola komunikasi tersebut komunikator dan komunikan dapat berinteraksi satu sama lain secara langsung.

Cite

CITATION STYLE

APA

Fadilah, W., Latifah, H., & Raturahmi, L. (2023). Preservation Communication Patterns Of The Akur Sunda Wiwitan Community’s Art And Culture In Globalization Era. Jurnal Spektrum Komunikasi, 11(4), 430–450. https://doi.org/10.37826/spektrum.v11i4.593

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free