Abstract
Sindroma mata kering adalah kondisi multifaktorial yang mengganggu air mata dan permukaan mata, menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan penglihatan, dan kerusakan permukaan mata. Sargassum cristaefolium, alga coklat yang ditemukan di Indonesia, mengandung senyawa aktif Epigallocatechin gallate (EGCG) yang memiliki potensi antiinflamasi. EGCG dapat menginaktivasi pensinyalan interleukin - 1B sehingga memicu aktivasi MMP yang berperan dalam degradasi barrier sel epitel dan menjaga lubrikasi pada permukaan kornea. EGCG juga memiliki fungsi yang sebanding dengan Cyclosporin A, obat yang digunakan untuk sindroma mata kering. Penelitian ini bertujuan mengetahui kinerja EGCG dalam menekan interleukin 1B untuk menghentikan produksi dan aktivasi MMP melalui pendekatan in silico. Metode ini menggunakan metode in silico yang memiliki beberapa tahapan penyelesaian, yakni molecular docking, prediksi pada ADME, dan prediksi pada toksisitas yang terkandung pada senyawa aktif EGCG. EGCG diprediksi memiliki potensi setara dengan Cyclosporin A dalam menghambat interleukin 1B. EGCG memiliki keunggulan berupa distribusi yang baik dalam plasma darah, tidak memengaruhi enzim CYP3A4, serta tidak mempengaruhi substrat OCT2. Selain itu, EGCG memiliki kecepatan ekskresi lebih lambat, tidak bersifat mutagenik, tidak menyebabkan sensitisasi kulit, dan tidak hepatotoksik. Epigallocatechin gallate yang terdapat dalam Sargassum cristaefolium dapat berperan sebagai antiinflamantory dan dapat menghambat protein interleukin – 1B pada sindroma mata kering secara in silico.Dry eye syndrome is a multifactorial condition that disrupts the tear film and ocular surface, causing discomfort, visual disturbances, and damage to the ocular surface. Sargassum cristaefolium, a brown alga found in Indonesia, contains the active compound Epigallocatechin gallate (EGCG), which has anti-inflammatory potential. EGCG can inactivate interleukin-1B signaling, thereby triggering the activation of MMPs that play a role in epithelial barrier degradation and maintaining lubrication of the corneal surface. EGCG also exhibits functions comparable to Cyclosporin A, a drug used for dry eye syndrome. This study aims to determine the performance of EGCG in suppressing interleukin-1B to inhibit the production and activation of MMPs through an in-silico approach. The method involves several stages, namely molecular docking, ADME prediction, and toxicity prediction of the active compound EGCG. EGCG is predicted to have potential equivalent to Cyclosporin A in inhibiting interleukin-1B. EGCG shows advantages such as good distribution in blood plasma, no effect on CYP3A4 enzymes, and no influence on OCT2 substrates. In addition, EGCG has a slower excretion rate, is non-mutagenic, does not cause skin sensitization, and is non-hepatotoxic. Thus, EGCG found in Sargassum cristaefolium may serve as an anti-inflammatory agent and inhibit interleukin-1B protein in dry eye syndrome through in silico mechanisms.
Cite
CITATION STYLE
Faiq, M. N., Pasaribu, I. A., Jauhar, T., & Biutifasari, V. (2025). In Silico Bahan Aktif Epigallocatechin Gallate dari Sargassum cristaefolium untuk Menghambat Pembentukan Interleukin 1B pada Sindroma Mata Kering. Spizaetus: Jurnal Biologi Dan Pendidikan Biologi, 6(3), 394–404. https://doi.org/10.55241/spibio.v6i3.528
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.