Abstract
Latar belakang: Pencapaian target sanitasi sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan masih menghadapi tantangan signifikan di Indonesia, khusunya dalam implementasi kebijakan sanitasi berbasis masyarakat. Di Kelurahan Merjosari, Kota Malang terdapat 676 KK (2024) yang masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) ke Sungai Metro, mencerminkan kegagalan implementasi kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).Tujuan: Menganalisis implementasi kebijakan STBM menggunakan teori George C. Edwards III dan mengidentifikasi peran lembaga kemasyarakatan dalam mendukung keberhasilan program.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen terhadap lima informan kunci yang dipilih secara purposive, observasi partisipatif dan studi dokumen. Analisis data menggunakan Model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan metode.Hasil: Implementasi kebijakan STBM di Kelurahan Merjosari menghadapi kendala utama dalam faktor komunikasi (frekuensi sosialisasi terbatas) dan sumber daya (rasio tenaga sanitarian tidak ideal). Lembaga kemasyarakatan berperan kritis sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam seluruh tahapan STBM, dengan tingkat partisipasi mencapai inisiasi dan legitimasi.Simpulan: Keberhasilan STBM memerlukan pendekatan kolaboratif yang memperkuat peran lembaga kemasyarakatan dan peningkatan kapasitas sumber daya implementasi. Rekomendasi kebijakan difokuskan pada optimalisasi komunikasi dan penguatan kelembagaan lokal. ABSTRACTTitle: Analysis of The Implementation of Community-Based Total Sanitation Policies and The Role of Community Institutions in Merjosari Village, Malang CityBackground: Achieving sanitation targets as part of the Sustainable Development Goals still faces significant challenges in Indonesia, especially in the implementation of community-based sanitation policies. In Merjosari Village, Malang City, there are 676 households (2024) that still practice open defecation into the Metro River, reflecting the failure of the implementation of the Community-Based Total Sanitation (CBTS) policy..Objective: Analyzing the implementation of STBM policies using George C. Edwards III's theories and identifying the role of community institutions in supporting the success of the program.Method: Qualitative research using a case study approach, employing in-depth interviews, observation, and document analysis techniques on five key informants selected purposively, participatory observation, and document analysis. Data analysis used the Miles and Huberman model with triangulation of sources and methods.Result: The implementation of the STBM policy in Merjosari Village faces major obstacles in terms of communication (limited frequency of socialization) and resources (unideal ratio of sanitation workers). Community institutions play a critical role as a bridge between the government and the community in all stages of STBM, with participation levels reaching initiation and legitimacy.Conclution : The success of CBTS requires a collaborative approach that strengthens the role of community institutions and increases the capacity of implementation resources. Policy recommendations focus on optimizing communication and strengthening local institutions.
Cite
CITATION STYLE
Arif, Moh. S., Abiyoso, W., & K, M. P. (2026). Analisis Implementasi Kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan Peran Lembaga Kemasyarakatan di Kelurahan Merjosari Kota Malang. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 25(1). https://doi.org/10.14710/jkli.79502
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.