Abstract
Dalam ruang virtual, menyoal “satir” khususnya dalam kaitannya dengan etika sepertinya merupakan pemborosan waktu dan terkesan sangat lucu. Alibi utamanya adalah karena satir hanyalah bentuk lain dari narasi panjang atau tulisan formal yang berisi kritikan terhadap suatu persoalan. Sejauh makna tersiratnya mengungkap bentuk ketidakadilan, kecurangan ataupun kritik konstruktif yang berkaitan dengan kepentingan publik maka penelisikan lebih mendalam terkait aspek etika dianggap berlebihan. Alasan lainnya adalah bahwa persoalan etika baru akan diterima sebagai sesuatu yang urgen ketika menyangkut aktor politik, kejahatan structural, kolektif atau berbagai bentuk tindakan yang berada dalam tataran makro sedangkan pihak yang mempersoalkan etika seakan menjadi bebas nilai. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pandangan terhadap penggunaan meme bernuasa satir mencemooh dalam perspektif etika komunikasi. Simbol-simbol bernuansa satir diungkapkan dengan menggunakan simotik Charles Sanders Pierce.
Cite
CITATION STYLE
Dodalwa, M. C. (2020). “SATIR” ANTARA KRITIK DAN SELEBRASI (ANALISIS REAKSI WARGANET TERHADAP PERMOHONAN MAAF RATNA SARUMPAET). Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema, 2(1), 45–57. https://doi.org/10.24076/pikma.2019v2i1.395
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.