PERIWAYATAN HADIS SECARA MAKNA PERSPEKTIF MUHAMMAD AMIN AL-SYINQITHIY

  • Muhammad Ryan Baihaqi
  • Muhid
N/ACitations
Citations of this article
16Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Perdebatan tentang periwayatan hadis secara makna bukanlah sesuatu yang baru. Akar masalah ini timbul karena adanya pernyataan Rasulullah yang melarang dan dalam riwayat lain Rasulullah malah membolehkan. Kebolehan periwayatan secara makna dikhawatirkan berpeluang pada berubahnya makna hadis sebagai konsekuensi dari perubahan teks. Para ulama kaum muslimin di antaranya Muhammad Amin Al-Syinqithiy menentukan syarat dan batasan terkait periwayatan secara makna dan siapa saja yang boleh melakukannya. Beliau menentukan syarat dan batasan tersebut agar perawi yang kesulitan dalam meriwayatkan secara lafaz dapat meriwayatkan secara makna sebagai bentuk kemudahan. Ketentuan syarat dan batasan tersebut juga agar perawi yang meriwayatkan secara makna tidak liar dalam meriwayatkannya sehingga hadis terjaga keautentikan dan keorisinalannya dari penyelewengan dan pemalsuan. Dengan mengangangkat judul penelitian tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang apa hukum periwayatan secara makna dan apa saja syarat dan batasan ketika melakukannya. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan kualitatif yang bersifat kepustakaan, dan berdasarkan hasil temuan penelitian, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa periwayatan hadis secara makna hukumnya boleh menurut Al-Syinqithiy, tetapi terdapat syarat-syarat dan batasan-batasan yang ketat dan wajib dipenuhi ketika meriwayatkannya.The debate on the transmission of hadith by meaning is not something new. The root of this issue arose due to statements from the Prophet Muhammad that prohibited it, while in other narrations, the Prophet permitted it. The permissibility of transmitting by meaning is feared to lead to a change in the meaning of the hadith as a consequence of textual changes. Muslim scholars, including Muhammad Amin Al-Syinqithiy, have set conditions and limitations regarding the transmission by meaning and who is allowed to do it. He established these conditions and limitations so that narrators who had difficulty transmitting verbally could narrate so by meaning as a form of facilitation. These conditions and limitations also ensure to prevent narrators who transmit by meaning from being reckless, ensuring the authenticity and originality of the hadith, protecting it from distortion and fabrication. By adopting the title of this research, the researchers aim to understand the legal status of transmitting by meaning and what conditions and limitations apply when doing so. This research uses a qualitative literature-based approach, and based on the findings, the researchers employ a descriptive research method. The result of this research is that the transmission of hadiths by meaning is permissible according to Al-Shinqiti, but there are strict conditions and obligatory limitations that must be fulfilled when transmitting them.

Cite

CITATION STYLE

APA

Muhammad Ryan Baihaqi, & Muhid. (2024). PERIWAYATAN HADIS SECARA MAKNA PERSPEKTIF MUHAMMAD AMIN AL-SYINQITHIY. Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah, 11(2), 368–394. https://doi.org/10.37397/amj.v11i2.475

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free