Interpreting bulugh: Enhancement of women’s rights through management of marriage within Salafi community in Wirokerten, Yogyakarta

8Citations
Citations of this article
170Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

This article discusses Salafi Wirokerten women and the enhancement of their status and rights through management of marriage and interpretation of bulugh. It therefore observes the practice of marriage within Salafi women in terms of age and their attitudes toward their own manhaj. It also seeks to see the Salafis’ attitude in general toward the state law of marriage. The materials of this article were obtained from an ethnographic investigation that was conducted in a Wirokerten village in Banguntapan sub-district of Yogyakarta between 2018 and 2019 through interviews, participatory observations, and group discussions. Deploying a sociolegal approach, this article finds that Salafi women have notions to improve their rights, and they stress the importance of the maturity of religious knowledge. This article also argues that Salafi women identify themselves as Salafi agents by transforming authority to gain manhaj recognition of marital management as a source of strength and empowerment. It concludes that Salafi women have an important role in bridging the relations between the Salafi and the state and that while negotiating state law with their own manhaj, Salafis often need to refer to Islamic doctrines to base and strengthen their position. Not only do they refer to Islamic teachings but they also propagate narratives of the significance of study and of being knowledgeable to do and thus to marry. Artikel ini mendiskusikan perempuan Salafi Wirokerten dan peningkatkan hak perempuan mereka melalui manajemen perkawinan dan interpretasi bulugh. Artikel ini mengamati praktik pernikahan perempuan Salafi kaitannya terutama dengan isu usia pernikahan dan sikap mereka terhadap manhaj mereka sendiri. Artikel ini juga berupaya melihat sikap Salafi secara umum terhadap hukum perkawinan negara. Bahan-bahan dan data untuk artikel ini diperoleh dari penelitian etnografi yang dilakukan di sebuah dusun Wirokerten kecamatan Banguntapan Yogyakarta pada rentang tahun 2018-2019, melalui wawancara, observasi partisipatif, dan diskusi kelompok. Menggunakan pendekatan sociolegal artikel ini menemukan bahwa wanita Salafi memiliki prinsip-prinsip dan gagasan untuk meningkatkan hak-hak mereka, dan mereka menekankan pentingnya kedewasaan pengetahuan agama. Artikel ini juga menegaskan bahwa perempuan Salafi mengidentifikasi diri mereka sebagai agen Salafi dengan melakukan transformasi kewenangan atau otoritas untuk mendapatkan pengakuan manhaj tentang manajemen perkawinan sebagai sumber kekuatan dan pemberdayaan. Selain itu, disimpulkan bahwa perempuan Salafi memiliki peran penting dalam menjembatani hubungan negara dan manhaj, dan bahwa ketika menegosiasikan hukum negara dengan manhaj mereka sendiri, Salafi sering merujuk pada doktrin-doktrin Islam untuk memperkuat posisi mereka. Mereka tidak hanya merujuk pada ajaran atau doktrin Islam tentang pentingnya pendidikan tetapi juga menyebarkan narasi-narasi pentingnya studi dan berpengetahuan luas sebelum melakukan tindakan dan tentunya juga sebelum melakukan pernikahan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Abubakar, F., Nurlaelawati, E., & Wahib, A. B. (2022). Interpreting bulugh: Enhancement of women’s rights through management of marriage within Salafi community in Wirokerten, Yogyakarta. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 12(1), 139–163. https://doi.org/10.18326/ijims.v12i1.139-163

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free