Hubungan Diabetes Melitus dengan Kematian dan Rehospitalisasi Pasien STEMI Pasca IKPP

  • Sylvia
N/ACitations
Citations of this article
5Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Latar Belakang: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) tetap menjadi tantangan kesehatan utama dengan risiko kematian dan rehospitalisasi yang lebih tinggi pada pasien dengan diabetes melitus (DM). Meskipun intervensi koroner perkutan primer (PPCI) efektif menurunkan angka kematian dibandingkan terapi fibrinolitik, pasien DM menghadapi risiko komplikasi lebih besar karena kerusakan vaskular dan hiperglikemia. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan DM dengan kematian dan rehospitalisasi padapasien STEMI pasca IKPP di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik obsevasioal dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik pasien dan  menggunakan media telepon. Teknik pegambilan sampel adalah total sampling dengan 104 subjek memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Dari 104 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 89 laki-laki, usia dominan 45–64 tahun (n=62), 69 memiliki IMT ≥23, 39 dengan lokasi infark anterior, 69 perokok, 101 mengalami penurunan kadar HDL, 71 mengalami peningkatan kadar LDL, dan 85 memiliki faktor risiko ganda. Terdapat 9 kasus kematian (8 dengan DM) dan 19 kasus rehospitalisasi (14 dengan DM), dengan korelasi signifikan antara DM dengan kematian (p=0,015) serta rehospitalisasi (p=0,034). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pasien STEMI didominasi laki-laki, usia 45-64 tahun, dengan IMT ≥23, penurunan HDL, peningkatan LDL, lokasi infark anterior, faktor risiko ganda, dan merokok. Kejadian kematian dan rehospitalisasi lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, dengan hubungan signifikan terhadap peningkatan risiko keduanyaLatar Belakang: ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) tetap menjadi tantangan kesehatan utama dengan risiko kematian dan rehospitalisasi yang lebih tinggi pada pasien dengan diabetes melitus (DM). Meskipun intervensi koroner perkutan primer (PPCI) efektif menurunkan angka kematian dibandingkan terapi fibrinolitik, pasien DM menghadapi risiko komplikasi lebih besar karena kerusakan vaskular dan hiperglikemia. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan DM dengan kematian dan rehospitalisasi padapasien STEMI pasca IKPP di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik obsevasioal dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik pasien dan  menggunakan media telepon. Teknik pegambilan sampel adalah total sampling dengan 104 subjek memenuhi kriteria penelitian. Hasil: Dari 104 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 89 laki-laki, usia dominan 45–64 tahun (n=62), 69 memiliki IMT ≥23, 39 dengan lokasi infark anterior, 69 perokok, 101 mengalami penurunan kadar HDL, 71 mengalami peningkatan kadar LDL, dan 85 memiliki faktor risiko ganda. Terdapat 9 kasus kematian (8 dengan DM) dan 19 kasus rehospitalisasi (14 dengan DM), dengan korelasi signifikan antara DM dengan kematian (p=0,015) serta rehospitalisasi (p=0,034). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pasien STEMI didominasi laki-laki, usia 45-64 tahun, dengan IMT ≥23, penurunan HDL, peningkatan LDL, lokasi infark anterior, faktor risiko ganda, dan merokok. Kejadian kematian dan rehospitalisasi lebih sering pada pasien dengan diabetes melitus, dengan hubungan signifikan terhadap peningkatan risiko keduanya

Cite

CITATION STYLE

APA

Sylvia. (2025). Hubungan Diabetes Melitus dengan Kematian dan Rehospitalisasi Pasien STEMI Pasca IKPP. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia, 6(4), 337–343. https://doi.org/10.25077/jikesi.v6i4.1467

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free