Abstract
Pembacaan “klasik” terhadap Matius 25:14-30 selalu mengarah pada kesimpulan bahwa hamba ketiga adalah hamba yang tidak setia kepada tuannya dan pada apa yang dipercayakan tuannya kepadanya. “Talenta” selalu dianggap sebagai “karunia” yang diberikan oleh Tuhan yang harus selalu dikembangkan oleh manusia. Pembacaan tersebut juga “seolah” meniadakan keberatan yang justru muncul dalam teks, saat hamba ketiga memberi perlawanan kepada sang tuan. Namun benarkah perumpamaan ini menunjukkan bahwa hamba ketiga adalah hamba yang malas dan jahat, dan benarkah “hanya” berbicara mengenai karunia Allah? Melalui tulisan ini akan disampaikan pembacaan kritis-alternatif atas Matius 25:14-30. Dengan metode pendekatan naratif, setidaknya ada empat tawaran pembacaan terhadap perumpamaan ini, yaitu (1) Yesus sedang/adalah melakoni hamba ketiga; (2) hamba ketiga adalah hamba yang baik; (3) perumpamaan ini bukanlah tentang karunia; dan adanya kemungkinan bahwa (4) Injil Matius sedang “menyembunyikan” sesuatu; bahwa jawaban atas perumpamaan dalam Matius 25:14-30 justru ada pada Matius 25:31-46. Itulah sebabnya perumpamaan talenta harus dibaca bersama dengan kisah penghakiman terakhir.
Cite
CITATION STYLE
Siburian, C. (2023). Benarkah Hamba Ketiga Malas dan Jahat? SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI, 13(1), 37–58. https://doi.org/10.46495/sdjt.v13i1.200
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.