Maskulinitas dalam Film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”: Sebuah Kajian Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu

  • Sapuroh S
N/ACitations
Citations of this article
23Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Marshall Clark, in the results of his article entitled “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema”, said that feminist research in Indonesian cinema still focused on female figures and their efforts to break free from the patriarchy trap. In fact, as mentioned by the French sociologist Pierre Bourdieu (2001: 114), to liberate women from male masculine domination, it is also necessary to make efforts to free men from the patriarchal structure that directs them to the imposition of domination. In this study, the writer chose the film “Marlina the Killer in Four Rounds” as a corpus because of the many reviews stating that this film succeeded in displaying the figure of Asian women who carry universal values to seek justice (Screen International, Apr. 12, 2017). This film has been a research subject a lot before, but no one has examined the work in terms of the masculinity displayed on male figures. Therefore, through Pierre Bourdieu’s genetic structuralism approach, the writer sees the characters in this film from habitus, capital, and the social arena that gave rise to social practices. The different social arenas represented by each character in the film gave rise to a struggle. This fight is what the film uses to weaken masculinity in male characters. However, efforts to weaken “masculinity” were not entirely successful because the power of the characters was also influenced by capital at least. Marlina, who was described as capable of killing a band of robbers, is still unable to defeat the domination of a steady and sturdy government. Marshall Clark, dalam hasil tulisannya yang berjudul “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema”, mengatakan bahwa penelitian feminis di sinema Indonesia masih berfokus pada tokoh-tokoh perempuan dan upaya mereka untuk membebaskan diri dari jerat patriarki. Padahal, sebagaimana disebutkan oleh sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (2001: 114), untuk membebaskan perempuan dari dominasi maskulin laki-laki, perlu dilakukan pula upaya untuk membebaskan pria dari struktur patriarki yang mengarahkan mereka pada pemaksaan dominasi tersebut. Pada penelitian ini, penulis memilih film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” sebagai korpus karena banyaknya ulasan yang menyatakan bahwa film ini berhasil menampilkan sosok perempuan Asia yang membawa nilai-nilai universal untuk mencari keadilan (Screen International, Apr. 12, 2017). Penelitian terhadap film ini telah banyak dilakukan sebelumnya, namun belum ada yang meneliti karya tersebut dari sisi maskulinitas yang ditampilkan pada tokoh laki-laki. Oleh karena itu, melalui pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu, penulis melihat tokoh-tokoh dalam film ini dari habitus, kapital, dan arena sosial yang memunculkan adanya praktik sosial. Perbedaan arena sosial yang diwakili dari setiap tokoh dalam film memunculkan adanya pertarungan. Pertarungan inilah yang digunakan film tersebut untuk melemahkan maskulinitas pada tokoh laki-laki. Namun, upaya melemahkan “maskulinitas” tak sepenuhnya berhasil karena kekuasaan tokoh juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kapital. Marlina yang digambarkan mampu membunuh segerombolan perampok tetap tidak mampu mengalahkan dominasi kekuasaan pemerintah yang ajeg dan kokoh.

Cite

CITATION STYLE

APA

Sapuroh, S. (2021). Maskulinitas dalam Film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”: Sebuah Kajian Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu. Urban: Jurnal Seni Urban, 5(1), 59–71. https://doi.org/10.52969/jsu.v5i1.45

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free