MENELUSURI KEHATI-HATIAN AL-KHULAFA' AL-RASYIDUN DALAM PERIWAYATAN HADIS NABI

  • Amin M
N/ACitations
Citations of this article
32Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Abstrak Hadis atau sunnah Nabi merupakan sumber utama ajaran Islam setelah Al-Qur’an. Keragaman bentuk hadis yang terdiri atas sabda (pernnyataan), perbuatan, taqrir (persetujuan), dan hal-ihwal (sifat dan keadaan pribadi) Nabi Muhammad saw.  sangat mempengaruhi cara Nabi menyampaikan hadisnya. Yang pada gilirannya, para sahabat pun menempuh berbagai cara dalam menerima hadis dari Nabi. Pasca wafatnya Nabi, kendali kepemimpinan umat beralih ke tangan al-Khulafa’ al-Rasyidun. Dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, mereka mempunyai sikap dan kebijakan yang berbeda-beda dalam periwayatan hadis. Akan tetapi yang jelas, mereka menunjukkan kehati-hatian dalam periwayatan tersebut. Abu Bakar al-Shiddiq menjalankan sikap ketat dalam periwayatan hadis. 'Umar bin al-Khaththab dan 'Usman bin 'Affan menekankan larangan memperbanyak periwayatan hadis. Sedangkan 'Ali bin Abi Thalib mempraktekkan persyaratan sumpah terhadap periwayat hadis Nabi.   Kata Kunci Nabi Muhammad saw., al-Khulafa’ al-Rasyidun, Periwayatan Hadis.

Cite

CITATION STYLE

APA

Amin, M. (2022). MENELUSURI KEHATI-HATIAN AL-KHULAFA’ AL-RASYIDUN DALAM PERIWAYATAN HADIS NABI. Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis, 13(2), 171–186. https://doi.org/10.24252/tahdis.v13i2.34301

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free