Abstract
Bunga gumitir merupakan salah satu bunga yang keberadaannya sangat dilestarikan khususnya di pulau Bali. Selain berfungsi sebagai tanaman hias, bunga gumitir juga berfungsi sebagai sarana upakara dan upacara umat Hindu. Warnanya yang kuning diimplementasikan sebagai bentuk simbol dewa Mahadewa penguasa arah barat oleh umat Hindu khususnya pada pembuatan sarana persembahyangan. Banyak makna yang terkandung di dalam warna kuning pada bunga gumitir baik secara etimologis maupun filosofis. Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) warna kuning dikenal dengan sebutan Jenar. Berangkat dari pemaknaan warna kuning pada bunga gumitir, diciptakanlah sebuah karya tabuh kreasi yang diberi judul Jenar. Pemaknaaan warna kuning bunga gumitir diimplementasikan ke dalam sebuah tabuh kreasi dengan memanfaatkan gamelan gong kebyar. Metode penciptaan karya diadaptasi dari metode yang dikemukakan oleh Alma M. Hawkins, yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, serta pembentukan karya. Pedoman pada garapan ini sesuai dengan konsep Tri Angga: kawitan, pengawak, serta pengecet, dengan dikembangkannya pola permainan tradisi baik dari susunan gending dan metode permainan/motif permainan, diikuti oleh penyusunan unsur – unsur musikal seperti: nada, ritme, dinamika, melodi, tempo, dan harmoni. Tabuh kreasi Jenar berdurasi 10 menit didukung oleh 29 penabuh termasuk komposer, dipentaskan di Gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Cite
CITATION STYLE
Febriana, I. W. A., & Suteja, I. Kt. (2022). Jenar: A New Music Creation | Jenar: Sebuah Musik Kreasi Baru. GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan, 2(3), 192–200. https://doi.org/10.59997/jurnalsenikarawitan.v2i3.1216
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.