Resiko Hepatotoksik Populasi Indonesia Akibat Polimorfisme Enzim NAT2 dan CYP2E1 dalam Metabolisme Isoniazid

  • Santoso S
  • Chabibah P
  • Pribadi P
N/ACitations
Citations of this article
13Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Artikel ini menyajikan data profil resiko kejadian hepatotoksik akibat polimorfisme NAT2 dan CYP2E1 dalam metabolisme isoniazid pada populasi Indonesia di antara berbagai populasi sejumlah negara. Penelitian berlangsung melalui telaah pustaka yang diperoleh dari google schoolar. Pencarian pustaka menggunakan tiga varian kata kunci; (1) “pharmacogenomic dan tuberculosis dan INH dan NAT2 dan CYP2E1 dan polymorphism”, (2) “isoniazid dan hepatotoxicity dan polymorphism dan N-acetyltransferase”, (3) “isoniazid dan hepatotoxicity dan polymorphism dan CYP2E1”. Analisis resiko hepatotoksik berdasarkan nilai odd ratio (confidence interval) menggunakan software Stata MP edisi 14. Telaah resiko hepatotoksik berdasarkan ragam kecepatan asetilasi NAT2 melibatkan 2.140 populasi dari 8 negara, sedangkan telaah resiko berdasarkan ragam alel CYP2E1 melibatkan 1.530 populasi dari 5 negara. Hasil telaah pustaka menunjukkan bahwa resiko hepatotoksik akibat induksi isoniazid pada populasi Indonesia yang memiliki enzim NAT2 asetilator lambat dan orang dengan CYP2E1*c1/c2, tiga kali lebih tinggi dari populasi lain di berbagai negara. Potensi resiko akan meningkat pada orang yang memiliki kombinasi NAT2 asetilator lambat dan CYP2E1*c1/c2.

Cite

CITATION STYLE

APA

Santoso, S. B., Chabibah, P. U., & Pribadi, P. (2021). Resiko Hepatotoksik Populasi Indonesia Akibat Polimorfisme Enzim NAT2 dan CYP2E1 dalam Metabolisme Isoniazid. Urecol Journal. Part D: Applied Sciences, 1(1), 9–16. https://doi.org/10.53017/ujas.11

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free