Abstract
This study explores the concept of Wahdatul Wujud (Unity of Existence) as depicted in Javanese palace manuscripts, specifically the Serat Menak from Yogyakarta and Serat Wedhatama from Surakarta. Wahdatul Wujud, an Islamic Sufi doctrine, asserts the absolute existence of Allah and has been influential in the spiritual traditions of the Javanese courts since the fragmentation of Islamic Mataram in 1755. Utilizing a descriptive analytic and philology approach, this research examines the implied messages within these manuscripts. The comparative analysis reveals that the Serat Menak, written in Old Javanese (Kawi), presents more complex vocabulary and is harder to understand compared to the Serat Wedhatama. Additionally, while Serat Menak illustrates the Unity of Existence through the narratives of ancient prophets and leaders, Serat Wedhatama conveys it through the Javanese concept of Manunggaling Kawula Gusti (the unity of servant and Lord). These findings underscore the nuanced interpretations of Wahdatul Wujud in Javanese literature and their cultural significance.Wahdatul wujud merupakan paham keagamaan Islam yang diamalkan para sufi, dengan meyakini adanya Allah sebagai pemilik wujud mutlak dan berhak disembah. Paham tersebut menyebar sampai ke nusantara yang didukung pesatnya pertumbuhan kesultanan-kesultanan Islam, seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Terlebih keduanya hasil pecahan Mataram Islam yang terus mengembangkan tradisi penulisan naskah di lingkungan keraton. Penelitian ini bertujuan menggali paham Wahdatul Wujud yang terdapat dalam naskah keraton Jawa pada naskah Serat Menak dari keraton Yogyakarta dan Serat Wedhatama dari Surakarta. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dan pendekatan sosiolinguistik untuk menganalisis pesan-pesan tersirat dalam naskah. Selanjutnya jenis penelitian studi komparatif (perbandingan) dalam rangka mencari perbedaan isi kedua naskah yang dijadikan subjek penelitian. Temuan yang dihasilkan, antara lain penggunaan kosa kata dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) pada Serat Menak cenderung sulit dipahami ketimbang Serat Wedhatama, karena dipengaruhi perbedaan waktu penulisan antar kedua naskah tersebut. Lalu, terkait paham Wahdatul Wujud dalam Serat Menak dinarasikan berupa kisah-kisah teladan para nabi dan pemimpin zaman dulu yang mengimani Allah sebagai Dzat yang disembah, sedangkan Serat Wedhatama mendefinisikan paham Wahdatul Wujud dalam istilah Jawa yaitu Manunggaling Kawula Gusti hasil perpaduan ajaran keislaman dan budaya Jawa.
Cite
CITATION STYLE
Mahamid, M. N. L., & Hidayatulloh, H. (2024). WAHDATUL WUJUD DALAM NASKAH KERATON JAWA: STUDI KOMPARATIF PADA SERAT MENAK DAN SERAT WEDHATAMA. Jurnal Lektur Keagamaan, 22(1), 287–316. https://doi.org/10.31291/jlka.v22i1.1150
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.