Abstract
Latar Belakang: Kebisingan okupasional di depo lokomotif yang melebihi nilai ambang batas 85 dBA berpotensi memicu stres kerja psikofisiologis melalui mekanisme neuroendokrin yang kompleks. Tujuan: Menganalisis hubungan intensitas kebisingan dengan risiko stres kerja pada teknisi depo lokomotif. Metode: Penelitian cross-sectional observasional dengan total sampling pada 40 teknisi di Depo Lokomotif. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter tipe II pada 5 titik area kerja dengan metode time-weighted average, dikategorikan ?85 dBA dan >85 dBA. Stres kerja diukur dengan kuesioner tervalidasi 30 item (?=0,89). Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Cramer's V. Hasil: Sebanyak 62,5% area kerja memiliki intensitas kebisingan >85 dBA (rata-rata 88,4±3,1 dBA) dan 72,5% pekerja mengalami stres kerja. Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara paparan kebisingan >85 dBA dengan stres kerja (p=0,030, OR=3,8; 95%CI: 1,4-9,9, Cramer's V=0,34). Usia dan masa kerja tidak berpengaruh signifikan (p>0,05). Simpulan: Paparan kebisingan okupasional di atas nilai ambang batas meningkatkan risiko stres kerja psikofisiologis secara signifikan pada teknisi depo lokomotif. Saran: Intervensi pengendalian kebisingan berbasis hierarki kontrol dan penelitian longitudinal dengan sampel yang lebih besar serta desain kohort prospektif diperlukan untuk memvalidasi temuan dan menguji efektivitas intervensi berbasis bukti
Cite
CITATION STYLE
Sari, N., Tanjung, N. U., & Utami, T. N. (2025). Paparan Kebisingan Okupasional dan Risiko Stres Kerja Psikofisiologis: Studi Observasional pada Teknisi Depo Lokomotif. Health Information : Jurnal Penelitian, 17(3), 359–368. https://doi.org/10.36990/hijp.v17i3.1761
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.