Abstract
Pendahuluan: Masalah kesehatan gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, prevalensi karies di Indonesia mencapai 57,6%. Provinsi Kalimantan Selatan 46,90% penduduknya menderita karies gigi. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan prevalensi karies gigi adalah kebiasaan “menginang sirih” yang merupakan budaya masyarakat Banjar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tradisi “menginang sirih” dengan kejadian karies gigi dan menganalisis aspek budaya menginang dimasyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan mix mehod yang menggabungkan metode kuantitatifdengan pendekatan case control untuk mengetahui hubungan antara tradisi menginangdengan kesehatan gigi dan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui alasan budaya di masyarakat. Hasil: Subjek penelitian berjumlah 46 responden, terdiri dari 36 perempuan dan 10 laki-laki. Ditemukan bahwa tidak adahubungan antara kebiasaan menginang, umur, lama kebiasaan menginang, frekuensidalam seminggu, lama mengunyah, bahan yang digunakan dan menyikat gigi dengan kejadian karies gigi (p-value = 0,375; 0,964; 0,083; 1,000; 1,000; 0,462; 0,739; 0,462). Berdasarkan hasil analisis aspek budaya diketahui tradisi menginang sirih biasanyaterjadi dalam acara sakral seperti pernikahan, yang melambangkan penyatuan dua jiwa. Kesimpulan: Tradisi Menginang Sirih dapat dipertahankan dengan terusmemperhatikan kebersihan diri dan pemeriksaan gigi secara rutin.
Cite
CITATION STYLE
Topan Sulaiman Asy’ari, Riska Amelia Safitri, Nur Shofa Fhadila, Nidaul Jannah, Chintana Aurel Hairin, & Fauzie Rahman. (2023). Menginang Sirih dan Tradisi yang Hampir Hilang pada Masyarakat Banjar serta Perspektifnya dalam Kesehatan Gigi untuk Wujudkan Indonesia Bebas Karies 2030. Health Information : Jurnal Penelitian, 15(3), e1325. https://doi.org/10.36990/hijp.v15i3.1325
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.