Abstract
Kepekaan setiap manusia di dalam menangkap getaran kosmik melalui pikiran bawah sadar masing-masing berbeda. Ada yang menangkapnya dengan penuh kesadaran dan ada pula yang dengan setengah kesadaran. Penggabungan keduanya itulah yang di dalam bahasa Bali disebut Marma. Kondisi seseorang saat dalam situasi marma akan membiarkan panca inderanya menangkap getaran di luar dirinya dalam keadaan berbeda dengan kenyataan. Penciptaan sebuah komposisi musik seringkali dihadapkan dengan abstrak dan dapat mengambil ide-ide dari cerita kehidupan, alam, benda dan lain halnya. Penciptaan karya komposisi musik ini mengambil ide kehidupan social masyarakat Bali dalam menjalankan kewajiban beragama. Karya ini terwujud atas dasar pencipta yang mempunyai kesenangan terhadap suatu tantangan yang mampu mengolah pikiran, serta berani mencoba untuk mewujudkan suatu hal yang sedikit berbeda melalui garapan non-konvensional. Hal inilah yang kemudian mendorong pencipta untuk mewujudkannya ke dalam bentuk karya musik Eksperimental, dengan upaya pencarian dan percobaan mengolah berbagai unsur yang mampu disusun sehingga membentuk orisinalitas karya estetis. Penciptaan karya ini adalah sebagai Ekspresi pribadi untuk mengungkapkan hasil pemikiran pencipta yang diwujudkan melalui media ungkap gamelan.
Cite
CITATION STYLE
Agastya, I. D. G. B., & Sudhana, I. K. (2022). Marma: A New Musical Experimental | Marma: Sebuah Karya Baru Musik Eksperimental. GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan, 2(4), 304–310. https://doi.org/10.59997/jurnalsenikarawitan.v2i4.1350
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.