Abstract
Radioterapi eksternal (external beam radiation therapy/EBRT) merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Efek samping radioterapi eksternal yaitu neuropati saraf tepi. Radioterapi eksternal menyebabkan perubahan perbandingan antara akson dan area total serabut saraf. Tujuan penelitian ini menilai pengaruh radioterapi eksternal pada perubahan nilai ambang eksitabilitas saraf fasialis pada penderita karsinoma nasofaring. Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok–Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September–November 2012. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan nerve excitability test (NET) praradioterapi, fraksinasi radiasi ke-15, fraksinasi ke-33, dan 4 minggu pascaradioterapi. Hasil penelitian ini dihitung dengan menggunakan uji-t berpasangan. Terdapat 26 subjek mengalami peningkatan nilai NET selama radioterapi sesuai dengan kemaknaan jumlah fraksinasinya (p<0,001). Hal tersebut tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin dan usia penderita. Simpulan, terjadi peningkatan nilai NET sesuai bertambahnya fraksinasi radiasi, namun 4 minggu pascaradioterapi mengalami penurunan nilai NET mendekati nilai praradioterapi pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2013;45(3):167–73]
Cite
CITATION STYLE
Altila, Y., Samiadi, D., & Aroeman, N. A. (2013). Radioterapi Eksternal terhadap Nilai Ambang Eksitabilitas Saraf Fasialis pada Radioterapi Eksternal Penderita Karsinoma Nasofaring. Majalah Kedokteran Bandung, 45(3), 167–173. https://doi.org/10.15395/mkb.v45n3.147
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.