Abstract
Teknologi adalah manifestasi dari imajinasi manusia tentang sebuah dunia yang lebih baik. Melalui teknologi manusia membangun masa depan kebudayaan dan kehidupan mereka. Perkembangan teknologi tidak saja ditentukan oleh nilai-nilai budaya yang ada, tetapi ia justru dapat membentuk budaya-budaya baru: budaya media, budaya informasi atau budaya virtual. Dalam relasi antara teknologi dan budaya, ada sebuah paradoks. Di satu pihak, untuk menumbuhkan teknologi, diperlukan semacam “budaya teknologi”, yaitu nilai-nilai budaya yang mendorong perkembangan teknologi : daya kreativitas, rasionalitas, mental produktif, dan berorientasi ke depan. Di pihak lain, ada berbagai benturan nilai akibat keberadaan teknologi tertentu di dalam masyarakat. Benturan ini terjadi bila teknologi tak hanya dipandang sebagai sebuah alat guna dan utilitas, tetapi sebagai pencipta makna. Nihilisme adalah kondisi ketika manusia menyerahkan diri mereka pada bingkai teknologi, yang kemudian mengendalikan makna hidup mereka: panik, serba cepat, instan, dan tercabut dari alam. Teknologi lalu menjadi semacam „beban sosial‟. Untuk menghindarkan sifat nihilisme teknologi, berbagai paradigma baru diusulkan: “budaya berpikir holistik”, yang melihat teknologi dalam sudut pandang seluas-luasnya; “budaya ketiga”, yaitu simbiosis antara paradigma teknologi dan kebudayaan; dan “teknologi yang manusiawi”, yaitu kombinasi teknologi tinggi dan sentuhan manusia.
Cite
CITATION STYLE
Amir Piliang, Y. (2013). BUDAYA TEKNOLOGI DI INDONESIA: KENDALA DAN PELUANG MASA DEPAN. Jurnal Sosioteknologi, 12(28), 247–262. https://doi.org/10.5614/sostek.itbj.2013.12.28.1
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.