Abstract
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ialah penyakit saluran napas kronis yang ditandai dengan terbatasnya aliran udara secara progresif serta adanya peradangan jangka panjang di saluran napas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pola penggunaan glukokortikoid pada pasien PPOK di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, meliputi jenis obat, dosis, rute pemberian, frekuensi, lama terapi, serta mengidentifikasi adanya Drug Related Problems (DRP) berupa interaksi obat dan analisa terapi tambahan terhadap efek samping penggunan glukokortikoid. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dan dilaksanakan secara observasional dengan metode retrospektif terhadap data rekam medis pasien PPOK rawat inap periode Januari 2023–Desember 2024. Dari 90 sampel pasien yang diteliti, didapatkan 75% menerima terapi glukokortikoid tunggal, dan 25% menerima terapi kombinasi. Dengan rute pemberian metilprednisolon sistemik (98,9%), baik secara injeksi (125 mg) maupun oral (4–8 mg). Inhalasi budesonid (20,8%) pasien dan flutikason (4,2%) pasien. Frekuensi pemberian terbanyak adalah tiga kali sehari dan durasi terapi kurang dari lima hari. DRP yang ditemukan meliputi interaksi mayor (metilprednisolon + levofloxacin), moderate (metilprednisolon + vitamin D), dan minor (metilprednisolon + salbutamol).
Cite
CITATION STYLE
Febriyanti, A. N. A., Purbosari, I., & Sandhori, F. J. (2025). Studi Penggunaan Glukokortikoid Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 116–127. https://doi.org/10.30872/jsk.v6i3.828
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.