Dialektika Ulama Dan Budayawan Terhadap Tradisi Ngarot: Harmoni Agama dan Budaya Lokal

  • Tsany M
  • Aliyah A
  • Hapsar M
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
10Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Artikel ini mengkaji dialektika antara ulama dan budayawan dalam merespons tradisi Ngarot sebagai ekspresi budaya lokal masyarakat Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tradisi ini merupakan warisan budaya agraris yang menyatukan unsur spiritual dan sosial melalui praktik doa bersama, penguburan kepala kerbau, dan pembagian hasil panen sebagai simbol rasa syukur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan wawancara mendalam terhadap ulama, budayawan, dan tokoh masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan tafsir terhadap simbolisme ritual tertentu, mayoritas narasumber menilai bahwa tradisi Ngarot tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan justru memperkuat nilai religius serta identitas budaya lokal. Tradisi ini juga memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologis dan nilai-nilai agraris. Dengan demikian, Ngarot menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat menjadi ruang perjumpaan harmonis antara agama dan budaya dalam masyarakat pedesaan Indonesia.

Cite

CITATION STYLE

APA

Tsany, M. A. P., Aliyah, A., Hapsar, M. D., Rahmawati, H., Cahyani, A. N., & Supriyadi, T. (2025). Dialektika Ulama Dan Budayawan Terhadap Tradisi Ngarot: Harmoni Agama dan Budaya Lokal. Kutubkhanah, 25(1), 67. https://doi.org/10.24014/kutubkhanah.v25i1.36975

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free