Abstract
Hadis sebagai teks masa lalu yang shalih li kulli zaman wa makan dituntut sesuai dengan berbagai kondisi dan waktu. Meski realitasnya, banyak hadis jika dipahami tekstual “dikesankan” tidak sesuai dengan konteks “kekinian”. Kajian matan (mean/ide) hadis mengharuskan penyesuaian terhadap teori-teori yang berkembang, termasuk teori hermeneutic. Tawaran teori ini, meskipun tidak disepakati, tapi sekilas sesuai dengan langkah-langkah penelitian matan. Dalam teori hermeneutika Gadamer, ada tiga unsur dalam mengkaji teks, yaitu prejudice, time, product. Time terkait latar belakang teks (matan). Selain itu, banyak matan berupa kalimat majazi, ramzi dan qiyasi yang erat dengan analisis gramatikal, maka kajian aspek kebahasaan menjadi penting. Hal ini juga menjadi garapan teori hermenetika Schleiermacher. Nampaknya kontekstualisasi hadis yang dilakukan oleh Syuhudi Ismail juga mempertimbangkan kajian hermeneutika tersebut. Artikel ini mencoba mengetengahkan titik persamaan metode kontekstualisasi Syuhudi Ismail dengan teori-teori hermeneutik.
Cite
CITATION STYLE
Su’aidi, H. (2017). Hermeneutika Hadis Syuhudi Ismail. RELIGIA, 20(1), 33. https://doi.org/10.28918/religia.v20i1.837
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.