Abstract
Proses menyangrai kopi untuk memperoleh mutu produk biji kopi yang konsisten dan sesuai dengan preferensi pasar terbilang cukup kompleks dan membutuhkan keahlian operator yang memiliki pengalaman bertahun-tahun. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan pemodelan perhitungan kompleksitas sistem manufaktur proses sangrai kopi sebagai salah satu jenis alat ukur sebuah proses untuk menilai proses yang ada serta mengestimasi biaya awal di tahapan desain sebelum meningkat pada proses otomatisasi proses sangrai. Peneliti mengadaptasi dan mengembangkan pemodelan perhitungan kompleksitas yang diusung oleh W. H. El-Maraghy ke dalam ruang lingkup sangrai kopi, khususnya biji kopi Arabika Solok Radjo dan Robusta Bengkulu. Proses sangrai pada kajian ini dilakukan dengan temperatur pre-heating 160OC dan waktu penyangraian selama 16 menit. Berdasarkan kajian ini didapatkan hasil, bahwa aspek penting yang paling mempengaruhi kompleksitas sangrai biji kopi berdasarkan tingkatan sangrai adalah warna sangrai, massa, dan dimensi yang dihasilkan dari profil sangrai biji kopi. Selain itu, variasi RPM akan memengaruhi temperatur turning point dan titik akhir temperatur biji. Indeks kompleksitas tertinggi didapatkan pada biji kopi Robusta Bengkulu dengan RPM 90 dan memiliki tingkatan sangrai dark, yaitu sebesar 9,9.
Cite
CITATION STYLE
Budiono, H. D. S., Fausta, M. A., Suputra, O. W., Aditya, T. M., & Zuhuda, R. M. (2023). Pengembangan model perhitungan kompleksitas proses sangrai kopi Indonesia menuju sistem otomatisasi. Jurnal Teknik Mesin Indonesia, 18(1), 1–10. https://doi.org/10.36289/jtmi.v18i1.414
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.