Abstract
Setiap budaya memiliki produk kerajinan sendiri yang dibuat oleh pengrajin khusus. Meski begitu, masyarakat luas di Indonesia saat ini tidak memperhatikan pengrajin tradisional sebagaimana mestinya. Banyak pengrajin tradisional telah diasingkan bahkan binasa dari komunitas mereka. Salah satu pengrajin tradisional yang telah ada dan dikenal di masyarakat orang Sunda adalah kamasan. Kamasan adalah nama tukang emas tradisional Sunda yang akan membuat perhiasan atau menanamkan logam mulia ke produk lain. Hari ini kehadiran kamasan hampir seperti mitos, bahkan pada masyarakat Sunda. Pertumbuhan yang cepat dan permintaan kuantitas yang lebih tinggi dari orang-orang Sunda yang tidak dapat dipenuhi oleh kamasan membuat mereka terbuang dari arus utama bisnis logam mulia dan perhiasan. Selain itu, inflasi ekonomi yang melanda global menyebabkan banyak kamasan mengubah profesi mereka. Dalam upaya menemukan kamasan yang masih ada di sekitar Bandung, pendekatan etnografis dilakukan di salah satu desa kamasan di Bandung selatan. Dari komunitas-komunitas itu akhirnya hanya ditemukan satu kamasan yang masih berlatih tukang emas sampai hari ini. Kamasan itu terus-menerus mempraktikkan tukang emas yang dikenal dalam budaya tradisional Sunda. Absennya pengrajin tradisional dari komunitasnya berdampak pada hilangnya berbagai pengetahuan budaya. Kondisi itu akan membuat komunitas terasing dari akar budaya dan kesadaran mereka sendiri.
Cite
CITATION STYLE
Sjahroeddin, B. M., Sachari, A., Triharini, M., & DRSAS, M. I. (2019). Kamasan: Goldsmith Tradisional Sunda. JURNAL RUPA, 3(2), 93. https://doi.org/10.25124/rupa.v3i2.1498
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.