IDENTIFIKASI FISIK BANGUNAN PADA KAJIAN AWAL OLAH DESAIN ARSITEKTUR PUSAKA

  • Utami W
  • Rahmi N
  • Maenak HRG S
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
19Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Bangunan pusaka atau pada undang undang disebut dengan bangunan cagar budaya mempunyai arti penting yang melekat dalam waktu lama, sudah sewajarnya harus dilestarikan, tanpa menafikkan akan adanya penambahan atau adaptasi dengan metode yang tepat untuk optimalisasi fungsi. Olah desain dibutuhkan pada tahapan pengembangan bentuk, karena tuntutan fungsi dan upaya pelestarian sebagai bagian dari penataan ruang kota.  Masih adanya pertentangan pemahaman pelestarian dan minimnya contoh metode desain yang bisa digunakan menjadikan permasalahan dalam pengembangan desain bangunan bersejarah.  Oleh karena itu, dalam tulisan ini dibahas tentang Olah Desain Arsitektur Pusaka (ODAP) atau Infill Design in Heritage Architecture (IDHA) atau istilah lainnya adalah Adaptive Reuse in Heritage Architecture (ARHA), dengan tiga contoh kasus bangunan bersejarah di Kota Medan, yaitu eks Warenhuis, eks Deli Maatschappij Hospitaal dan eks Radio Republik Indonesia Kota Medan.   Metode penelitian yang digunakan dalam tahapan olah desain adalah Evidence Based Design (EBD) dengan pendekatan Post Ocupation Evaluation (POE) yang mengkaji arti penting bangunan masing-masing sebagai dasar penentuan rekomendasi perlakuan pada bangunan serta ide-ide desain pada tahap pengembangan bentuk desain.

Cite

CITATION STYLE

APA

Utami, W., Rahmi, N. E., Maenak HRG, S., Prasetia Zebua, I. B., & Tumanggor, W. (2023). IDENTIFIKASI FISIK BANGUNAN PADA KAJIAN AWAL OLAH DESAIN ARSITEKTUR PUSAKA. Jurnal Arsitektur Kolaborasi, 3(1), 15–25. https://doi.org/10.54325/kolaborasi.v3i1.38

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free