TIONGHOA INDONESIA: Dari Dikotomi Ke Mono-Identitas?

  • Ibrahim I
N/ACitations
Citations of this article
112Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Yang paling umum digunakan oleh berbagai elemen dalam mendefinisikan identitas Tionghoa adalah dengan membaginya menjadi dikotomi utama, yaitu totok dan peranakan. Namun demikian, definisi totok dan peranakan sendiri memiliki batasan yang terus diperdebatkan. Totok umumnya dipahami dari sisi kelahirannya dan Puritanisme Tionghoa, sementara peranakan dipahami sebagai identitas yang saling memadukan satu sama lain dengan lokalitas. Seiring berjalannya waktu, dikotomi totok dan peranakan tidak relevan lagi. Perkembangan politik baru-baru ini telah menyebabkan opsi identitas Tionghoa diukur sendiri-sendiri dengan tingkat fleksibilitas yang lebih likuid.

Cite

CITATION STYLE

APA

Ibrahim, I. (2013). TIONGHOA INDONESIA: Dari Dikotomi Ke Mono-Identitas? Society, 1(1), 46–55. https://doi.org/10.33019/society.v1i1.41

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free