Abstract
Corona virus atau SARS CoV-2 pertama kali teridentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, Republik Tiongkok. Sejak kemunculan tersebut, berbagai keilmuan mengenai hubungan Covid-19 dengan berbagai sistem tubuh pun bermunculan, salah satunya terkait dengan sistem respirasi. Namun, penelitian mengenai virus ini terus berlanjut dan melibatkan dampak pada sistem saraf. Salah satu gejala langka yang timbul adalah kejang, stroke, dan kasus Guillain Barre Syndrome. Guillain Barre Syndrome adalah penyakit demielinasi yang dimediasi oleh respon imun, beronset akut atau subakut dan biasanya ditandai dengan kelemahan progresif dari ekstremitas, parestesia ekstremitas, dan arefleksia relatif. Pada saat pandemi Covid-19, suplementasi vitamin sangatlah dianjurkan. Vitamin B1 dan D menjadi imunonutrisi di kala pandemi. Defisiensi vitamin B1 (tiamin) dapat meningkatkan resiko terjadinya neuropati perifer sedangkan vitamin D berperan penting dalam homeostasis kalsium dan, dengan demikian, memberikan dukungan penting pada pertumbuhan tulang dengan membantu mineralisasi matriks kolagen. Vitamin D bertindak sebagai imunomodulator, antiinflamasi,dan antioksidan.
Cite
CITATION STYLE
Ramadhan, H. G. (2020). PENGARUH KONDISI DEFISIENSI VITAMIN PADA MASA PANDEMI COVID-19 TERHADAP RESIKO TERJADINYA PENYAKIT GUILLAIN BARRE SYNDROME : STUDI LITERATUR. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 7(3). https://doi.org/10.33024/jikk.v7i3.2909
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.