AKSARA JAWA PEGON SEBAGAI PENGANTAR DI PESANTREN JAWA (ANALISIS OTORITAS KHARISMATIK MENURUT MAX WEBER)

  • Fahrijal Nurrohman
N/ACitations
Citations of this article
37Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Bahasa merupakan penjelmaan pikiran dan perasaan sebagai wujud dari budi manusia. Oleh karena bahasa merupakan perwujudan budi manusia, maka bahasa bukanlah semata-mata struktur gramatika yang hanya berisi aspek bunyi, kata, dan kalimat, melainkan bahasa merupakan cermin yang selengkap-lengkapnya dan sesempurnanya dari kebudayaanDalam penelitian ini, digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis otoritas karismatik menurut Max Weber. Pendekatan analisis otoritas karismatik sering digunakan dalam penelitian di bidang antropologi budayaAksara Jawa Pegon memiliki beberapa keunggulan yang membedakannya dari aksara Jawa lainnya, diantaranya: (1) Aksesibilitas, (2) Fleksibilitas, (3) Representasi fonetik yang akurat, (4) Penggunaan dalam konteks agamaDalam konteks pesantren Jawa, aksara Jawa Pegon dapat menjadi alat untuk menyampaikan ajaran agama, tradisi, dan nilai-nilai budaya kepada para santri. Pemimpin pesantren yang mampu menguasai aksara Jawa Pegon dan menggunakannya dengan baik dapat membangun koneksi emosional dan spiritual dengan para santri, serta memperkuat hubungan guru-murid yang khas dalam pesantren.

Cite

CITATION STYLE

APA

Fahrijal Nurrohman. (2023). AKSARA JAWA PEGON SEBAGAI PENGANTAR DI PESANTREN JAWA (ANALISIS OTORITAS KHARISMATIK MENURUT MAX WEBER). PROPHETIK: Jurnal Kajian Keislaman, 1(2), 54–64. https://doi.org/10.35457/prophetik.v1i2.2947

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free