Abstract
Abstrak: Sesuai dengan judulnya, Tujuan penelitian ini berupaya meneliti dekontruksi mitos wayang Ramayana dan Barata Yuda dan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam novel Kitab Omong Kosong dan novel Perang. Pembongkaran itu meliputi pembongkaran mitos satriya, mitos peperangan Ramayana dan Barata Yuda, desakralisasi wayang dan nilai-nilai karakter dalam novel. Pembahasan yang dilakukan menggunakan ciri khas dekontruksi.yaitu: (a) terdapat konsep mayor filosofis pada sebuah teks. Asumsinya setiap teks mempunyai makna karena itu teks memiliki pesan utama yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca; (b) ada kekhasan dalam ungkapan filosofis yang dapat ditunjukkan dalam istilah, frase hingga susunan kalimat; (c) ada penyusunan oposisi binner sebagai realisasi konstruksi tematik yang tersusun sebagai tema mayor yang oposisi binner itu selanjutnya dipertanyakan; dan (d) ada upaya konstruksi baru sebagai hasil dari destrukturasi dari sebuah kontruksi yang sudah ada sebelumnya. Ciri khas ini bedasarkan tiga cara baca dekonstruksi. Pertama dekonstruksi menawarkan cara untuk mengidentifikasi kontradiksi dalam politik teks atau kecenderungan ideologis yang muncul dalam teks baik secara sadar maupun tak sadar. Kedua, teks sastra beserta konteks dan tradisinya diperlakukan sebagai sarana yang mampu membuka kemungkinan baru untuk mengandaikan dan membuka kemungkinan perubahan baru yang selama ini dianggap tidak mungkin. Ketiga, melalui titik pandang dekontruksi, dapat dicairkan ideologi yang sudah membeku dalam bahasa dan pikiran. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dalam novel Kitab Omong KosongPerang dan Perang disuarakan pandangan kritis mengenai mitos satriya (Rama-laksamana dan Pandawa). Rama, Laksamana dan Pandawa dalam novel tidak lagi sesuai dengan mitos satriya wayang yang sempurna (satriya pinandita) mewakili kebenaran, lurus dan sakti, namun sembrono, jahat,dan konyol. Satriya Rama-Laksamana dan satriya Pandawa tidak lagi mengemban tugas satriya yang harus memayu-mayu hayuning bawana (menjaga ketenteraman dunia) namun tampil sebagi penguasa yang ambisius dan fasis. Sedangkan peperangan yang dilakukan Rama dan perang barata yuda (Pandawa versus Kurawa) yang dalam wayang dimitoskan sebagai perang suci antara kebenaran dan kebaikan hanyalah peperangan yang muncul karena ambisi kekuasaan, bahkan sekedar iseng dan main-main. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos-mitos dalam wayang telah dibongkar dan didekontruksi oleh Seno Gumira dan Putu Wijaya untuk mengungkapkan dan mengekspresikan pandangan-pandangan dan penghayatan terhadap persoalan kehidupan sosial budaya masa kini dengan memuat nilai-nilai karakter berupa: (a) keberanian,patriotisme dan cinta tanah air; (b) kemanusiaan/welas asih (empati, peduli, suka menolong), (c) setia inspiratif, adil, sabar, jujur, disiplin, kerjasama, dan toleran. Kata kunci: dekontruksi, mitos, satriya, wayang, pendidikan karakter.
Cite
CITATION STYLE
Widijanto, T. (2023). DEKONSTRUKSI MITOS WAYANG RAMAYANA DAN BARATA YUDA DAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL KITAB OMONG KOSONG KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA DAN PERANG KARYA PUTU WIJAYA. Paramasastra, 10(1), 93–112. https://doi.org/10.26740/paramasastra.v10n1.p93-112
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.