Abstract
Tradisi Mandi Tujuh Bulanan hingga saat ini masih tetap dilaksanakan dan berlaku bagi setiap wanita yang hamil anak pertama. Secara umum makna dari prosesi mandi tujuh bulan ini bermakna adalah agar dalam proses melahirkan nanti dapat berjalan dengan lancar dan selamat hal ini terlihat dari beberapa rangkaian proses yang dilakukan. Tradisi mandi 7 bulanan merupakan adat kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat banjar khususnya ibu yang hamil anak pertama pada usia kandungan memasuki 7 bulan. Upacara 7 bulanan adalah sebagai bentuk syukur kepada allah karean sebentar lagi bayi yang di kandung akan lahir ke dunia. Upacara ini di harapakan bisa menjadi doa untuk anak yang di kandung agar selalu taat kepada allah dan bisa bebakti kepada kedua orang tuanya. Ketika upacara di gelar, si ibu yang akan di mandikan berada pada dalam pagar mayang untuk di mandikan. Setelah selesai mandi 7 bulanan si ibu yang hamil tersebut rambutnya di sisir, di rias, dan di beri pakaian yang bagus. Upacara ini di akhiri dengan bersalaman sambil mendoakan kepada si ibu yang mandi tersebut. Penelitian ini menunjukan bahwa tradisi yang turun temurun tetap bertahan di tengah masyarakat, meskipun gempuran budaya modernisasi dan globalisasi budaya dengan dahsyat menerpa, hal ini disebabkan budaya Tradisional seperti mandi Tujuh Bulanan menjadi salah satu keyakinan yang diyakini oleh masyarakat secara kuat dan memberikan efek manfaat bagi masyarakat itu sendiri .
Cite
CITATION STYLE
Almira Riski Amanda, Fimeir Liadi, Muhammad Husni. (2023). Proses Mandi Tujuh Bulanan Tradisi Masyarakat Banjar Di Kelurahan Selat Utara Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas. AL-MUTSLA, 5(2), 234–247. https://doi.org/10.46870/jstain.v5i2.731
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.