Abstract
Hari ini, kekristenan menghadapi kemerosotan moral dan iman dalam era kemajuan zaman. Generasi masa kini kurang memahami bahwa etika moral sangat penting dalam membangun relasi yang sehat dan benar. Era postmodern membawa pemikiran relativitas menjadikan manusia lebih mudah menimbang segala sesuatu, termasuk teknologi. Tujuan dari artikel ini ialah menelisik makna orang benar di dalam Kejadian 18:16-33, dan relevansi kehidupan orang benar di era postmodern. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan Narrative Criticism terhadap Kitab Kejadian 18:16-33, di mana Abraham berdiskusi dengan Allah dalam syafaatnya untuk Sodom dan Gomora. Abraham berusaha mempromosikan "orang benar" agar Allah mengampuni kota tersebut, tetapi jumlah yang dia usulkan tidak terpenuhi. Akhirnya makna dari "orang benar" yang dikaji secara mendalam, mengacu pada mereka yang hidup sesuai dengan hukum ilahi dan beriman kepada Tuhan. Dalam era postmodern, pandangan mengenai kebenaran bersifat relatif, namun kisah Abraham menunjukkan bahwa Allah masih menghargai keberadaan orang-orang benar di tengah-tengah kebobrokan moral. Orang percaya perlu menjaga nilai-nilai religius dan menjadi contoh hidup yang memuliakan Allah dalam menghadapi perubahan zaman.
Cite
CITATION STYLE
Wasikin, S., & Willyam, V. (2023). Kualitas Orang Benar di Tengah Relativitas Postmodernisme. SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI, 13(1), 19–36. https://doi.org/10.46495/sdjt.v13i1.198
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.