Abstract
Since ancient times, the Bangka Belitung Islands have been known as one of the world’s largest tin producers. Mining has taken place massively since tin is no longer a strategic commodity, marked by the issuance of several policies that grant permits to anyone to mine tin. Mining, which was originally mostly carried out on land, over time and needed in the economic aspect, has also been carried out at sea. As a result, mining, mostly carried out without permits, impacts environmental damage and other legal and social aspects. In fact, from a regulatory standpoint, the government has issued laws and regulations that serve as references in environmental management, including its relation to the mining sector. This study aims to determine awareness of environmental law in unconventional tin mining activities in the Bangka Belitung Islands. Judging from its type, this research is analytical descriptive research, describing an object through which the data obtained is processed and analyzed to conclude. The research was conducted in all regencies/municipalities in the Bangka Belitung Islands. From the research that has been done, the result is that even though they know, the fact is that most of the mining is carried out without permits, plus there has never been, and there has been no socialization regarding tin mining permits. In addition, most of them also know that their mining activities damage the environment and admit that mining activities damage the habitat of living things. This means that, based on the theories and concepts used, miners are more towards ecocentrism because they make nature an object, not ecocentrism, which pays attention to environmental sustainability.Sejak dahulu kala, Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu penghasil timah terbesar di dunia. Penambangan telah dilakukan secara masif sejak timah tidak lagi menjadi komoditas strategis, ditandai dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan yang memberikan izin kepada siapapun untuk menambang timah. Penambangan yang semula banyak dilakukan di darat, lama kelamaan dan karena kebutuhan dalam aspek ekonomi, juga dilakukan di laut. Akibatnya, penambangan yang sebagian besar dilakukan tanpa izin berdampak pada kerusakan lingkungan dan aspek hukum dan sosial lainnya. Padahal, dari sisi regulasi, pemerintah telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam pengelolaan lingkungan, termasuk kaitannya dengan sektor pertambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran hukum lingkungan dalam kegiatan penambangan timah inkonvensional di Kepulauan Bangka Belitung. Dilihat dari jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis, yaitu menggambarkan suatu objek melalui mana data yang diperoleh diolah dan dianalisis untuk menyimpulkan. Penelitian dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Bangka Belitung. Dari penelitian yang telah dilakukan, hasilnya meskipun mereka tahu, faktanya sebagian besar penambangan dilakukan tanpa izin, ditambah lagi belum pernah ada, dan tidak pernah ada sosialisasi mengenai izin penambangan timah. Selain itu, sebagian besar dari mereka juga mengetahui bahwa kegiatan penambangannya merusak lingkungan dan mengakui bahwa kegiatan penambangan tersebut merusak habitat makhluk hidup. Artinya, berdasarkan teori dan konsep yang digunakan, para penambang lebih ke arah ekosentrisme karena mereka menjadikan alam sebagai objek, bukan ekosentrisme yang memperhatikan kelestarian lingkungan.
Cite
CITATION STYLE
Haryadi, D., Ibrahim, I., & Darwance, D. (2022). Environmental Law Awareness as Social Capital Strategic in Unconventional Tin Mining Activities in the Bangka Belitung Islands. Society, 10(2), 665–680. https://doi.org/10.33019/society.v10i2.455
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.