Abstract
Stuntingmerupakan suatu sindrom kegagalan pertumbuhan linier berfungsi sebagai penanda dari beberapa kelainan patologis yang terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas, hilangnya potensi pertumbuhan fisik, berkurangnya perkembangan saraf dan fungsi kognitif serta peningkatan risiko penyakit kronis pada masa dewasa. Tahun 2018 di Indonesia tercatat 30,8% balita melangami stunting dan di provinsi Jawa Tengah sendiri terdapat kasus 31,22%, sedangkan wilayah puskesmas guntur (13,81%) pada tahun 2019. Bertujuan mengetahui hubungan stunting dengan perkembangan motorik anak pada usia 2-3 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional, populasi dalam penelitian ini sebanyak 595 balita stunting. Teknik sampling menggunakan csluster sampling dan besar sampel yang diambil sebanyak 73 balita stunting umur 2-3 tahun. Pengumpulan data perkembangan motorik dengan wawancara menggunakan kuesioner motorik anak umur 2-3 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara stunting dengan perkembangan motorik kasar (p=0,013) dan motorik halus (p=0,026). Bahwa pada anak stunting cenderung memiliki perkembangan motorik yang terhambat baik motorik kasar dan motorik halus.
Cite
CITATION STYLE
Auliana, D., Susilowati, E., & Susiloningtyas, I. (2020). HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 2-3 TAHUN DI DESA TEMUROSO WILAYAH PUSKESMAS GUNTUR 1 KABUPATEN DEMAK. LINK, 16(1), 49–53. https://doi.org/10.31983/link.v16i1.5590
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.