Menggagas Filsafat Pendidikan Perempuan

  • Hidayati I
N/ACitations
Citations of this article
33Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Dahulu perempuan menjadi musuh kebebasan. Seiring pergeseran zaman dan bergantinya ideologi, negara memberi kesempatan dan legitimasi kepada kaum perempuan untuk sepenuhnya bergiat di berbagai sektor. Lahirlah peran ganda, sebuah konsep yang menggambarkan ideologi gender yang dipakai negara, yakni perluasan peran perempuan dari hanya berorientasi rumah tangga dan keluarga (tradisional) ke bidang lain di luar rumah tangga (modern) yang memberi sumbangan besar pada ekonomi keluarga dan negara tanpa harus menanggalkan peran alamiah sebagai istri dan ibu. Sayangnya, kemajuan dan kebebasan yang diberikan kepada perempuan tidak berakibat banyak terhadap perbaikan dan kesejahteraan bangsa. Kasus perkosaan, anak putus sekolah, pembuangan anak dan bunuh diri masih saja mewarnai hari-hari. Bila mengerucut pada problem yang ada, hal ini berawal dari tidak tegasnya pendidikan bagi perempuan. Seruan untuk bersaing dengan pria membuat tanggung jawab hakiki perempuan menjadi bias. Maka sudah selayaknya gagasan tentang Filsafat Pendidikan Perempuan perlu dimunculkan. Filsafat Pendidikan Perempuan diperlukan sebagai asas pendidikan fundamental dalam ‘membentuk’ perempuan. Hal yang perlu di tekankan adalah optimalisasi potensi perempuan, karena setiap orang memiliki filsafat hidup yang dijalankan setiap hari. Filsafat Pendidikan Perempuan yang dimaksud berusaha menggali hakikat perempuan yang sebenarnya dan memposisikan perempuan pada tempat yang seharusnya.

Cite

CITATION STYLE

APA

Hidayati, I. W. (2018). Menggagas Filsafat Pendidikan Perempuan. Jurnal Tarbiyatuna, 9(2). https://doi.org/10.31603/tarbiyatuna.v9i2.2298

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free