Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna tanda-tanda yang terdapat dalam empat drama ’’,Asal-usul Gunung Merapi ‘’, ‘’Putri Si Anak Durhaka’’, ‘’Candra Kirana’’, dan ‘’Malapetaka Sang Raksasa’’. Teori pendekatan yang dipakai untuk menganalisis adalah semiotika versi Ferdinand De Saussure yang dibantu dengan analisis makna tanda dari Rolanf Barthes. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah purposive sampling, sedangkan analisis data menggunakan metode semiotika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dongeng Nusantara dapat digubah ke dalam genere seni drama, khususnya drama anak-anak. Dengan digubah ke dalam drama akan memiliki peluang audiens yang lebih luas. Keempat dongeng mengandung makna denotatiie dan konotatif. Makna denotative terkait dengan kesrkahan dan egoisme, ketidakadilan, pegergeseran sistem nilai masyarakat, dan kegigihan dalam mengejar cita-cita, kebaikan melawan kejahatan. Makna konotatif terkait relevansinya semua makna konotatif dengan kondisi sosial historis masyarakat Indonesia sekarang. Makna-makna keempat dongeng cukup relevan untuk pendidikan moral generasi sekrang, sehinga sudah selayaknya diperkenalkan kepada generasi masa kini.
Cite
CITATION STYLE
Sahid, N., & -, J. (2022). Relevansi Makna Empat Drama Anak-Anak Berbasis Cerita Dongeng Nusantara Bagi Generasi Masa Kini. Mudra Jurnal Seni Budaya, 37(1), 13–23. https://doi.org/10.31091/mudra.v37i1.1685
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.