Abstract
ABSTRAK Secara umum sumber utama pendapatan rumah tangga petani padi sawah di Desa Cayur berasal dari sektor pertanian, namun kepemilikan lahan petani mayoritas sempit (<0,5 ha) dan fakta menunjukkan bahwa produksi usahatani padi sawah memiliki risiko tinggi menyebabkan petani tidak hanya mengandalkan dari satu sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menciptakan kesejahteraan keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) Struktur pendapatan, 2) Distribusi pendapatan, dan 3) Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani padi sawah. Metode yang digunakan adalah survey, teknik penarikan sampel responden menggunakan simple random sampling dengan slovin pada tingkat kesalahan 15 persen dan diperoleh 37 responden petani padi. Struktur pendapatan dihitung menggunakan analisis persentase sedangkan untuk analisis distribusi pendapatan dihitung dengan Gini Indeks serta tingkat kesejahteraan dengan BPS dalam Susenas 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pendapatan petani dari usahatani adalah Rp 5.536.114,7,-pendapantan dari non-usahatani adalah Rp 9.742.702,7,-dan non-pertanian adalah Rp 13.039.459,46,-. Struktur pendapatan dari sektor pertanian berkontribusi paling besar yaitu 54%, sedangakn sektor non-pertanian berkontribusi sebesar 46%. 2) Distribusi pendapatan menunjukkan ketimpangan rendah dengan indek gini sebesar 0,09 menunjukkan tidak terjadi ketimpangan pendapatan. 3) Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani padi sawah di Desa Cayur seluruhnya dikategorikan tidak miskin. Berdasarkan 11 indikator ekonomi dan sosial (BPS-SUSENAS 2016) sekor rata-rata yang di peroleh adalah 27,9 yang menunjukkan tingkat kesejahteraan seluruh rumah tangga petani termasuk tingkat sejahtera tinggi. Kata Kunci: Struktur pendapatan, distribusi, indeks gini rasio, kesejahteraan, petani padi, rumah tangga petani. ABSTRACT In general, the main source of household income for lowland rice farmers in Cayur Village comes from the agricultural sector, but the of farmers' land ownership majority is narrow (<0.5 ha) and the fact shows that low-risk rice farming production has made farmers not only rely on one source of income to meet household food security while creating family welfare. This study aims to analyze: 1) income structure, 2) income distribution, and 3) the level of household welfare of paddy farmers. The method used was a survey, the sampling technique used was simple random sampling with Slovin at an error rate of 15 percent and obtained 37 respondents of lowland paddy farmers. The income structure is calculated using percentage analysis, while for the analysis of income distribution it is calculated using the Gini Index and the level of welfare with the BPS in Susenas 2016. The results showed that: 1) Farmers' income from farming was Rp 5,536,114,7,-income from non-farming is Rp 9,742,702.7,-and non-agriculture is Rp 13,039,459.46,-. The income structure from the agricultural sector contributed the most at 54%, while the non-agricultural sector contributed 46%. 2) The income distribution shows low inequality with a Gini index of 0.09 indicating that there is no income inequality. 3) The level of household welfare of lowland rice farmers in Cayur Village is all
Cite
CITATION STYLE
Dini, A., Noor, T. I., & Yusuf, M. N. (2020). STRUKTUR DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI PADI SAWAH DI DESA CAYUR KECAMATAN CIKATOMAS KABUPATEN TASIKMALAYA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh, 7(3), 660. https://doi.org/10.25157/jimag.v7i3.3983
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.