Abstract
AbstrakArtikel ini menganalisis putusan pengadilan pada penggunaan bencana alam sebagaipembelaan dalam kasus perbuatan melawan hukum. Memang ada setidaknya tiga kasuslingkungan di Indonesia, di mana terdakwa terpaksa melakukan pembelaan bencana alamsebagai pembelaan mereka. Artikel ini berfokus pada satu kasus, yaitu Walhi v Lapindo, dkk.Artikel ini bertujuan mengukur perbedaan antara kasus Indonesia dengan kasus gugatan ASmelibatkan apa yang disebut "Kuasa Tuhan". Secara khusus, artikel ini mencoha untuk membahas pertanyaan tentang apakah bukti harus ditetapkan oleh pihak yang mengklaimbahwa yang menderita kerusakkan disebabkan oleh bencana alam. Dengan demikian, artikelini akan mencari aturan-aturan yang mendasari dalam definisi bencana alam, hubungan antara tindakan pembelaan Tuhan dan aturan kewajiban, dan kemampuan meramalkan kebutuhan dalam hukum ganti-rugi. Sebagai kesimpulan, artikel ini menerangkan bahwa dibandingkan dengan rekan-rekan AS, pengadilan Indonesia tidak memiliki konsistensi dan penalaran logis dalam keputusan mereka pada pembelaan bencana alam. Menyusul keputusan tentang penggunaan tindakan pembelaan Tuhan di pengadilan AS, artikel ini berpendapat bahwa untuk menciptakan konsistensi dalam pengambilan keputusan pengadilan, pembelaan harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti menjadi luar biasa, tak terduga, dan bebas dari campur tangan manusia.
Cite
CITATION STYLE
Wibisana, A. G. (2011). TANGAN TUHAN DI PENGADILAN: DALIH BENCANA ALAM DAN PERTANGGUNGJAWABAN PERDATA DALAM KASUS LINGKUNGAN. Jurnal Hukum & Pembangunan, 41(1), 101. https://doi.org/10.21143/jhp.vol41.no1.238
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.