Pembagian Hak Harta Waris Bagi Bayi dalam Kandungan (Perbandingan Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali)

  • Mustofa H
  • Imron M
  • Gibtiah G
N/ACitations
Citations of this article
36Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

A baby who is still in the womb is an heir who has the right to inherit inheritance, so in implementing the division of inheritance, there are problems in itself because there is no certainty regarding the baby being born whether the baby was born alive or dead, whether the gender is male or female, and born alone or twins. Therefore, this article will examine the determination of inheritance rights for unborn babies from the perspective of the Shafi'i school of thought and the Hanbali school of thought. The aim of this research is to determine the position of inheritance rights for unborn babies from the perspective of the Shafi'i school of thought and the Hambali school of thought. The method used in this research is library research, namely searching for data through existing literature and then drawing conclusions to answer the problems that have been formulated. The results of this research conclude that determining the inheritance rights of unborn babies according to the Syafi'i school of thought should be postponed until the baby is born. According to the Hambali school of thought, inheritance can be given to heirs without having to wait for the birth of the baby. by setting aside a portion of the inheritance of the baby in the womb (deferred) for two boys or two girls with presumptive twinsBayi yang masih dalam kandungan merupakan seorang ahli waris  yang berhak mendapatkan harta warisan, maka dalam penerapan pembagian harta waris mengalami masalah tersendiri dikarenakan belum ada kepastian terhadap bayi yang dilahirkan apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup atau meninggal, jenis kelaminnya laki-Iaki atau perempuan, dan lahir sendiri atau kembar. Oleh sebab itu, artikel ini akan mengkaji penetapan hak waris bagi bayi dalam kandungan menurut perspektif mazhab syafi’i dan mazhab hanbali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  mengetahui kedudukan hak waris bagi bayi dalam kandungan dalam perspektif mazhab syafi’i dan mazhab hambali. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian studi pustaka, (library  research), yaitu mencari data melalaui literatur yang ada kemudian mengambil kesimpulan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penetapan  hak harta waris bayi dalam kandungan menurut mazhab Syafi’i, sebaiknya ditangguhkan sampai bayi tersebut  lahir. Adapun menurut mazhab Hambali mengatakan warisan dapat diberikan kepada ahli waris tanpa harus menunggu kelahiran bayi tersebut. dengan menyisihkan bagian harta waris bayi dalam kandungan (ditangguhkan ) untuk dua orang anak laki-laki atau dua anak orang perempuan dengan prakiraan kembar.

Cite

CITATION STYLE

APA

Mustofa, H. D., Imron, M. Z., & Gibtiah, G. (2023). Pembagian Hak Harta Waris Bagi Bayi dalam Kandungan (Perbandingan Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali). Muqaranah, 7(2), 183–192. https://doi.org/10.19109/muqaranah.v7i2.19543

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free