Abstract
Perjumpaan Gereja dengan budaya memungkinkan terjadinya penerimaan atau penolakan gereja terhadap budaya. Gereja HKBP salah satu gereja kesukuan di Indonesia yang menerima dan menjaga tradisi Batak Toba. Penerimaan Gereja HKBP terhadap budaya telah disertai dengan larangan dan pengajaran yang tertuang dalam buku Konfessi dan Ruhut Parmahanion Paminsangon (RPP), namun masih ada jemaat yang melaksanakan praktik okultisme. Tulisan ini bertujuan mempercakapkan sikap Gereja HKBP saat ini dan di waktu yang akan datang terhadap praktik okultisme dan eksorsisme dalam masyarakat Batak Toba. Penulis akan menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan, yaitu upaya kontekstualisasi berbasis teori Stephen B. Bevans khususnya model sintesis dan berdasarkan pandangan Richard Niebuhr tentang Kristus dan Kebudayaan, Edgar H. Schein tentang struktur kebudayaan dan Martin Luther tentang Eksorsisme. Kajian ini menemukan bahwa tradisi Batak Toba mengandung nilai positif dan juga nilai negatif, oleh karena itu kajian ini menawarkan bahwa Gereja perlu melakukan kajian ulang terhadap budaya sehingga ditemukan tradisi yang benar, dan Gereja harus ambil bagian dalam praktik Eksorsisme.
Cite
CITATION STYLE
Sihombing, J. F., & Sitanggang, A. P. (2023). SIKAP HKBP TERHADAP OKULTISME DAN EKSORSISME DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN ATAS PRAKTIK OKULTISME DI HKBP NAULI DANOHORBO. Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi, 6(1), 1–16. https://doi.org/10.47457/phr.v6i1.294
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.