Abstract
Fokus penelitian ini adalah kritik atas fenomena inkonsistensi beriman mahasiswa Manggarai di Malang berdasarkan Rm 12:2. Ada dua faktor yang meyebabkan inkonsistensi beriman yakni shock culture dan minimnya fungsi kritis atas perkembangan jaman. Shock culture terlihat dalam perbedaan budaya antara masyarakat desa (kultur asali para mahasiswa) yang menekankan aspek kontrol sosial dengan masyarakat kota yang mewariskan semangat hidup individualis dan hedonis. Perbedaan ini turut memengaruhi cara mereka dalam menghayati imannya. Iman yang tumbuh dan dididik dalam kebudayaan kontrol sosial tidak berbuah ketika hidup dalam kebudayaan yang individualis dan hedonis. Atas fenomena ini, penulis menempatkan surat rasul Paulus kepada jemaat di Roma 12:2 sebagai lensa kritiknya. Paulus menekankan dua hal penting yakni “janganlah menjadi serupa dengan dunia ini dan berubahlah dengan pembaruan budi”. Para mahasiswa dituntut untuk menghidupkan semangat pertobatan yakni membaharui diri dan menolak segala bentuk kecendrungan duniawi.
Cite
CITATION STYLE
Rabim, D. (2023). Kritik Atas Fenomena Inkonsistensi Beriman Mahasiswa Manggarai Di Malang Perspektif Budaya Tanding (Roma 12:2). Jurnal Masalah Pastoral, 11(1), 30–46. https://doi.org/10.60011/jumpa.v11i1.36
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.