Abstract
Teknologi termasuk internet disebut para peneliti sebagai medium yang mampu mengatasi ekslusi sosial (social exclusion) kelompok difabel. Penetrasi internet di Indonesia semakin meningkat seharusnya menjadi ruang bagi kelompok difabel untuk mewujudkan pemilu inklusif. Namun, dalam konteks Indonesia kelompok dominan non-difabel masih menguasai ruang virtual. Tulisan ini ingin memahami potensi internet sebagai sarana partisipasi politik online kelompok difabel. Dengan menggunakan metode studi kasus dalam konteks Pilgub Jateng 2018, penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan difabel, penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu) dan institusi pendidikan di Kota Semarang. Penelitian ini menemukan difabel (fisik dan grahita ringan) di Kota Semarang telah memiliki akses terhadap internet, namun akses internet ternyata belum memberikan difabel akses berkomunikasi. Artinya, internet belum berfungsi sebagai Assistive Technology (AT) untuk sarana partisipasi politik online karena adanya digital divide yang bersumber dari masalah internal seperti skeptisme difabel terhadap politik; anti-polarisasi dalam diskusi politik online dan eksternal yakni karena rendahnya literasi internet bagi difabel.
Cite
CITATION STYLE
Hasfi, N. H., Gono, J. N., & Rakhmad, W. N. (2020). Internet Access and the Potential in Facilitating Online Political Communication of Disabled. Jurnal ASPIKOM, 5(1), 36. https://doi.org/10.24329/aspikom.v5i1.468
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.