Abstract
Ruang publik merupakan salah satu indeks kualitas kota yang memiliki fungsi sebagai ruang interaksi, sebagai penampung koridor-koridor, juga tempat pedagang kaki lima menjajakan dagangannya.Salah satunyawaduk yang saat ini digunakan oleh warga sebagai ruang interaksi, namun tidak adanya fasilitas ruang yang memadai bisa menampung hal tersebut padahal area sekitar jembatan merupakan jalur yang sering dilewati oleh masyarakat umum. Masyarakat sekitar juga memanfaatkan waduk untuk perikanan dengan memanfaatkan area pasang surut di sekitar waduk untuk ditanami tumbuhan liar pada musim penghujan, hal ini menyebabkan semakin rusaknya tepian Waduk. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain Ruang Publik Waduk Tunggu Bitoa Kota Makassar dapat menjadi salah satu sarana lingkungan hidup yang baik dengan pendekatan Arsitektur Hijau. Pentingnya arsitektur hijau digunakan dalam mendukung alam sekitar, dengan memiliki beberapa prinsip seperti dapat memanfaatkan energi, dapat memenuhi kebutuhan pengguna bangunan, ramah lingkungan serta harus menyesuaikan dengan iklim setempat. Metode deskriptif kualitatif terhadap data eksisting lapangan yang disintesa menjadi sebuah bentuk desain. Hasil penerapan arsitektur hijau diterapkan pada landscape, sistem ruang terbuka dan material alam pada unit bangunan
Cite
CITATION STYLE
Pradana, L. A., A’raaf Tauhid, F., & Marwati, M. (2022). Penerapan Arsitektur Hijau Pada Ruang Publik Waduk Tunggu Bitoa Kota Makassar. TIMPALAJA : Architecture Student Journals, 4(2), 143–151. https://doi.org/10.24252/timpalaja.v4i2a5
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.