Abstract
Batik adalah salah satu budaya indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Dengan diakuinya batik oleh UNESCO, maka citra batik makin terangkat baik di dalam negri maupun di dunia internasional. Hal tersebut tentunya membuka peluang bagi para pengrajin batik di Indonesia untuk membuat kreasi batik lebih dari pakaian adat ataupun pakaian formal yang resmi. Pemerintah melalui KEMENPAREKRAF terus melakukan upaya untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang berbasiskan karya kekayaan intelektual atau Creative Intellectual Property (IP). Sebagai wujud untuk mendukung upaya pemerintah sekaligus proses pembelajaran berdasar kasus nyata, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra (VCD-UC) meneliti dan mengembangkan aset dari Creative IP VCD-UC yaitu karakter VICOLIO ke dalam character merchandising dengan motif batik nusantara. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah design thinking yang meliputi observasi, eksplorasi ide, perancangan, dan perwujudan karya. Hasil dari perancangan ini berupa empat motif karakter VICOLIO yang diaplikasikan ke dalam tas jinjing. Setiap karakter VICOLIO diadaptasi menjadi motif batik khas nusantara dari berbagai pulau di indonesia. Strix Jalowy yang terinspirasi daerah Papua, Alces Gumantar yang terinspirasi pulau Kalimantan, Castor Arjana yang terinspirasi dari pulau Jawa, dan Canis Trunyan yang terinspirasi pulau Bali. Untuk meningkatkan daya tarik motif batik VICOLIO, ditambahkan aplikasi Augmented Reality agar pengguna dapat berinteraksi secara maya dengan produk. Aplikasi Augmented Reality juga dimanfaatkan untuk edukasi mengenai asal usul dan inspirasi setiap motif batik yang telah diadaptasi. Kata Kunci: motif; batik; IP kreatif; vicolioBatik is one of the Indonesian cultures recognized by UNESCO as a Humanitarian Heritage for Oral and Intangible Culture. With the recognition of batik by UNESCO, the image of batik is elevated both domestically and internationally. This opens up opportunities for batik craftsmen in Indonesia to make batik creations, not just as traditional formal clothes. The government through KEMENPAREKRAF continues to make efforts to develop a creative economy based on intellectual property works or creative IP. As a concrete manifestation to support the government's efforts as well as the learning process based on real cases, students majoring in Visual Communication Design at Ciputra University (VCD-UC) researched and developed assets from VCD-UC's creative IP, VICOLIO into character merchandising with batik pattern. The method used in this research is design thinking which includes observation, ideation, design, and prototyping. The results of this research are four VICOLIO character patterns that are applied into a tote bag design. Each character is adapted into Indonesian batik patterns from various islands in Indonesia. Strix Jalowy is inspired by the island of Java, Alces Gumantar is inspired by the island of Papua, Castor Arjana is inspired by the island of Java, and Canis Trunyan is inspired by the island of Bali. To increase the value of VICOLIO batik pattern, an Augmented Reality application is added so users can interact virtually with the product. The Augmented Reality application is also used to inform the user about the origin and inspiration for each character's batik patterns. Keywords: motif; batik; creative IP; vicolio
Cite
CITATION STYLE
Sutanto, S. M. (2022). Perancangan Character Merchandising Creative IP VICOLIO dengan Motif Batik Nusantara. Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual, 15(1), 32–47. https://doi.org/10.31937/ultimart.v15i1.2477
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.